Kamis, 21 Desember 2017

Profil Sanggar An Nahel



Bismillaah.
Ponpes Al Hikmah, Karangmojo, Gunung KIdul, Yogyakarta
Sabtu, 11 Robi’ul Awal 1439 H/30 Desember 2017 M
LATAR BELAKANG BERDIRINYA SANGGAR AN NAHEL
Dalam kehidupan manusia, ada banyak kejadian-kejadian yang memilikan bagi kita. Baik di tingkat anak-anak seperti, menjahili satu anak dengan anak yang lainnya, pergaulan bebas antara putra dan putri, banyaknya orang-orang Islam yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagai orang Muslim, seperti sholat lima waktu. Kewajiban kita adalah beramar ma’ruf nahi mungkar. Bagaimana menasehati mereka-mereka agar mau menyadari kesalahannya.
Ada banyak organisasi kemasyarakatan Islam yang telah terjun di tengah masyarakat dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar. Seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama dan Salafi. Ketiga atau dua organisasi kemasyarakatan, yaitu Muhammadiyah dan Nahdaltul Ulama, punya garapan dakwah masing-masing di masyarakat. Dan Salafi, yang tidak mengatas namakan organisasi kemasyarakatan, juga punya anggotanya masing-masing. Alangkah indahnya, apabila ke tiga komponen tersebut diatas bisa saling bersinergi.
Seyogyanya yang aktifis di Muhammadiyah, tidak alergi terhadap pendapat-pendapat dari Nahdlatul Ulama, dan sebaliknya, selama ada dalil yang menguatkan. Begitu juga dengan yang berfaham Salafi, hendaknya tidak alergi terhadap pendapat-pendapat yang disampaikan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dan sebalinknya, selama ada dalil yang menguatkan, dan masih dalam taraf perbedaan pendapat.
Dalam hal ini sanggar An Nahel, akan berusaha bergerak dalam bidang seni dalam rangka menginstal akhlak mulia di tengah-tengah masyarakat, dengan selalu mengindahkan pendapat-pendapat dari Muhammadiyah, Nahdatul Ulama dan Salafi dalam berkesenian. Dimana di harapkan bisa menjadi sarana ikut berpartisipasi dalam amar ma’ruf nahi mungkar. Aamiin.
Terjadi di suatu sekolah, satu anak di pukul oleh anak yang lainnya yang lebih besar. Ada juda anak sekolah, yg melihat hal-hal negatif di hp yang di milikinya, juga kenakalan kenakalan remaja dan orang tua yang lainnya. Yang tidak bertanggung jawab terhadap perbuatan jelek yang dilakukannya yang merugikan dirinya ataupun orang lain. Seperti pacaran, pergaulan bebas, perselingkuhan, dan lain-lainnya. Dari hal-hal tersebut diatas, sanggar an nahel, ingin berusaha ikut berperan dalam memberikan nasehat lewat seni.
Sebagaimana apa yang dikatakan oleh DR. Yusuf Qordowy,

 
Rabu, 25 Jumadil Ula 1438 H/22 Februari 2017 M, pukul, 10:07
Kalau dalam ilmu kesehatan ada istilah sakit badan (jasmani), dan dalam psikolagi ada istilah sakit jiwa (gila), maka mestinya juga ada istilah sakit rohani, yakni ketika fungsi otak kiri dan otak kanan tidak berjalan secara seimbang. Sehingga orang cenderung hanya menjadi “makhluk material”, dan tidak mampu menjadi “makhluk spiritual”. Malahan penyakit jiwa yang paling parah sesungguhnya adalah sakit rohani, dan bukan sakit gila. Karena orang yang sakit gila, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi, tidak akan dimintai pertanggungjawaban terhadap perbuatanya sampai dia sembuh dari sakitnya. Orang yang mengalami sakit rohani tidak sadar mengenai baik dan buruk, benar dan salah, yang disebut dalam Al-Qur’an bahwa keburukan itu dihiaskan dalam diri manusia: a faman zuyyina lahu su-u amalihi faro’ahu hasanah. Apakah orang yang dihiaskan pada dirinya kejahatannya sehingga kelihatan baik? (Q.S.35:8)
Klaten, senin, 30 Jumadil Ula 1438 H/27 Februari 2017 M, pukul, 16:07

Erich Frormm pernah mengatakan bahwa apabila hendak membangun bangsa, maka bangunlah masyarakatnya; bila hendak membangun masyarakat, maka bangunlah ‘hati’nya? Bila hati kacau, masyarakat lumpuh, bangsa dan negara hancur
Selasa, 29 Shofar 1438 H/29 Nofember 2016 H
Pd hr Sabtu, tgl, 26 Shofar 1438 H/26 November 2016 M, di Universitas Nadlatul Ulama, mengadakan pembekalan PKN (praktek Kuliyah Nyata). Dlm sambutanya, bapak. Rektor, Universitas Nahdlatul Ulama, beliau, bapak Dr. H. Mufrod Teguh Mulyo, M.H, hafidhohulloh, mengatakan, ketika padi menjadi beras, yang awalnya gabah, bukankah tadinya, ditumbuk di lesung, mk bukan karena alat untuk menumbuknya, yg menjadikan beras menjadi bersih, tp, karena gesekan-gesekan gabahnya, sehingga menjadi bersih. 

TUJUAN
PROGRAM
MANFAAT
TARGET

Senin, 04 Desember 2017

Berpartisipasi Dalam Penanaman Budi Pekerti

Klaten, Selasa, 16 Robi'ul Awal 1439 H/5 Desember 2017

Semua agama mempunyai konsep/dokrin dalam penanaman akhlak yang baik pada pemeluknya masing-masing. Baik Islam, Kristen, Budha, maupun Hindu. Dalam kehidupan kita sehari-hari, ada saja yang mengalami pasang surut dalam menjalani kehidupan. Ada yang senantiasa berada dalam kebaikan, ada yang selalau berada dalam ketidak baikan, atau kadang baik kadang tidak. Terkadang apa yang menjadikan seseorang bisa baik dan bisa tidak, karena pengaruh dari teman pergaulannya. Maka, perlu adanya pembentengan, terhadap anak-anak remaja terutama dalam pergaulannya sehari-hari.

Teman pergaulan, yang bisa menjadi suatu komunitas pendorong kebaikkan, seyogyanya perlu di kandisikan agar bisa membuat hal-hal yang baik. Baik untuk komunitas intra (dalam anggotanya sendiri) maupun komunitas ekstra (diluar komunitasnya). Dalam hal ini, tentunya, ada banyak teladan yang bisa kita dapatkan dari kehidupan orang-orang baik yang telah mendahului kita. Jejak mereka, yang telah jelas kebaikan mereka, yakni orang-orang yang mempunyai prestasi dalam kehidupan mereka, dalam hal ini kaitannya dengan akhlak yang mulia perlu di lestarikan.