Rabu, 28 Februari 2018

Pagelaran Tokoh Kardus Sebagai Model Dakwah Islam

PAGELARAN TOKOH KARDUS SEBAGAI MODEL DAKWAH ISLAM





                               



Disusun oleh
Trimo, Muh. Muhsin, Muchlas Hidayat




Al Ahwalusy Syahsyiyyah
Fakultas Agama Islam
Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta
Tahun 2017


















LEMBAR PENGESAHAN

1.    Judul Karya Tulis                : Pagelaran Tokoh Kardus Sebagai Model                                       Dakwah Islam
2.    Sub Tema                        : Keterpaduan Pagelaran Bidaya Lokal  
                                    dengan Dakwah Islam yang Benar dan
                                    Shohih
      3. Ketua Tim
        a. Nama Lengkap    : Trimo
        b. NIM            : 14.1054
        c. Jurusan            : Al Ahwal Al Syahsyiyah
        d.. Universitas        : Nadlatul Ulama
        e.. Email            : abumuthi01@gmailcom
      4. Alamat Rumah                    : Dukuh Puluhan Bero Rt. 2 Rw. 6 Desa
       Bero Kec. Trucuk Kab. Klaten     JawaTengah 
      5. No. Hp                            : 081339689736
      6. Dosen Pembimbing
         a. Nama Lengkap dan Gelar            : Suparnyo, SH, MH
         b. NIP                                :
         c. Alamat REumah dan No Hp        :

    Klaten, tanggal, 28 Februari 2018
    Dosen Pembimbing                                    Ketua Tim


    Suparnyo, SH, MH                                    Trimo
    NIP                                                    NIM : 114.1054
       
       


Menyetujui
Dekan Fakultas Agama Islam,


                         Dr. H. Amir Mahmud, M.Ag

i

LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama Ketua                            : Trimo
Tempat, Tanggal Lahir                : Tegal, 16 Januari 1974
Fakultas                                : Agama Islam
Perguruan tinggi                        : Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta
    Dengan ini menyatakan bahwa karya tulis dengan judul, “Pagelaran Tokoh Kardus SEbagai Model Dakwah Islam” adalah benar-benar hasil karya sendiri dan bukan merupakan plagiat dari karya tulis orang lain serta belum pernah menjuarai di kompetisi serupa. Apabila dikemudian hari peryataan ini tidak benar maka saya bersedia menerina sanksi yang ditetapkan oleh panitia LKTN HMJ MATRIKS UMM berupa diskualifikasi dari kompetisi. Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya, untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.





                                                        Klaten, 28 Februari 2018
                                                        Yang menyatakan,


                                                        Trimo
                                                        NIM : 14.1054

ii
Kata Pengantar
لْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.
Segala puji bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang telah memerintahkan kepada kita sekalian untuk selalu berpegang teguh pada tali agama Alloh. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk di ibadahi kecuali Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. SEmoga sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada tauladan umat Islam yakni Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu juga semoga shalawan dan salam tercurahkan kepada keluarganya, sahabatnya dan para pengikut petunjuknya. Aamiin.
Selanjutnya, kami atas nama tim lomba utusan dari Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta, ingin berusaha untuk menyajikan apa yang kami teliti kepada panitia lomba yang nantinya semoga bisa menjadi satu masukkan bagi umat Islam dan masyarakat Indonesia. Ini adalah pertamakali kami mengikuti lomba karya tulis ilmiyah.
Kami berharap keikutsertaan kami pada ajang lomba tersebut bisa memberi manfaat bagi kami sebagai pengalaman yang berharga untuk kami jadikan peningkatan dalam tulis-menulis. Begitu juga mudah-mudahan kami tidak bertepuk sebelah tangan dalam usaha kami menulis sebuah hasil penelitian dan pengamatan serta wawancara yang kami lakukan agar dapat menemukan kesimpulan yang baik.
Atas nama kami bertiga, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada panitia lomba yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk bisa berkesempatan mengasah sedikit kemampuan kami untuk berlomba dengan para mahasiswa yang cemerlang-cemerlang di usianya yang masih muda
iii
Masih banyak kekurangan yang kami miliki dan keterbatasan-keterbatasan yang kami punya untuk mengembangkan karya yang kami tulis, sehingga masih banyak kekeliruan dan kesalahan. Kami akan selalu berusaha untuk memperbaiki karya kami dikemudian hari agar lebih baik. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kritik dan saran sangat kami harapkan dari siapa saja yang membaca karya kami.
Surakarta, 28 Februari 2018
Penyusun,

Trimo



iv
Daftar Isi
Lembar Judul
Lembar Pengesahan
Lembar Penyataan
Daftar isi
Kata Pengantar
Pendahuluan
⦁    Latar Belakang
⦁    Rumusan Masalah
⦁    Tjuan
⦁    Manfaat
⦁    Metode
Pembahasan
    a.
    b.
    c.
    d.
Kesinpulan Saran dan Rekomendasi
Daftar Putaka
Lampiran












v

PENDAHULUAN
⦁    Latar Belakang
       Perpaduan budaya lokal dengan dakwah Islam yang benar dan shohih, perlu di    galakkan di Indonesia, karena masyarakat Indonesia masih banyak yang hidup di pedesaan. Disamping itu perpaduan budaya lokal dengan dakwah Islam yang shohih, bila bisa dikemas dengan menarik, akan menjadi daya tarik tersendiri di perkotaan dalam mendakwahkan Islam, juga tentunya dipedesaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman dalam Al Qura’n surat Al Bayyinah ayat 5. وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
       “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
       “Padahal mereka tidak disuruh) di dalam kitab-kitab mereka yaitu Taurat dan Injil (kecuali menyembah Allah) kecuali supaya menyembah Allah, pada asalnya adalah An Ya'budullaaha, lalu huruf An dibuang dan ditambahkan huruf Lam sehingga jadilah Liya'budullaaha (dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam beragama) artinya membersihkannya dari kemusyrikan (dengan lurus) maksudnya berpegang teguh pada agama Nabi Ibrahim dan agama Nabi Muhammad bila telah datang nanti. Maka mengapa sewaktu ia datang mereka menjadi jadi ingkar kepadanya (dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama) atau tuntunan (yang mustaqim) yang lurus.”
       “Mereka tidak dibebani tugas kecuali agar ibadah mereka hanya ditujukan kepada Allah dengan ikhlas, agar mereka menjauhi kebatilan, beristikamah dalam kebenaran dan agar mereka selalu melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”
1

       Seseorang yang mengaku beragama Islam, ia harus bersungguh-sungguh untuk memasuki agama Islam secara kaffah atau penuh. Ia harus menjalankan ibadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan baik dan benar serta shohih. Ia juga harus mengikhlaskan diri semata-mata ibadanya hanya karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala, jauh dari kesirikan. Baik syirik besar apalagi syirik besar.
       Para wali zaman dahulu telah berusaha menanamkan nilai-nilai ke Islaman dalam berdakwah di masyarakat yang waktu itu mayoritasnya beragama Budha dan Hindu. Terutama Sunan Kalijaga. Salah satu foktor yang mendorong tentunya karena ada jiwa seni yang dicoba untuk di kembangkan walaupun mungkin awalnya tidak muncul. Hal tersebut bisa karena hasil dari pemikiran yang mendalam bagaimana caranya berdakwah agar bisa diterima di masyarakat yang berkembang waktu itu.
    Seorang panglima besar yang punya jiwa seni, suatu saat mengatakan pada istrinya, yang sering menumpahkan kegelisahannya ke secarik kertas, untuk menulis puisi. “Ngene apik ora bu.” “Diwaktu-waktu sengang, bapak memang sering memanfaatkan waktunya dengan menulis puisi,” tutur bu Dirman yang ditinggalkan suaminya sewaktu ia berusia 30 tahun. Salah satu puisi yang di tulis oleh panglima besar Jendral Sudirman sebagai berikut :
Robek-robeklah badanku
Potong-potonglah jasadku
Teta[u jiwaku yang dilindungi benting Merah Putih
Akan tetap hidup
Menuntut bela siapa pun lawan yang ‘kan dihadapi

2
    Seni bisa menyegarkan perasaan. Berkesenian menjadi wahana ekspresi yang bisa punya manfaat yang besar apabila diniatkan untuk beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu kesenian yang mengakar pada masyarakat kita sampai sekarang adalah pagelaran wayang, sampai pada masa pak Karno pun beliaunya suka nonton wayang.
    Bung Karno yang beragama Islam, salah seorang dari banyak tokoh yang menyukai wayang, yang merupakan seni budata lokal, terutama Jawa. Setiap kali suatu agama datang pada suatu daerah, maka mau tidak mau, agar ajaran agama tersebut dapat diterima oleh masyarakatnya secara baik, penyampaian materi dan ajaran agama tersebut haruslah bersifat “membumi”. Maksudnya adalah, ajaran agama tersebut harus menyesuaikan diri dengan beberapa aspek lokal, sekiranya tidak bertentangan secara dimetris dengan ajaran substantif agama tersebut. Demikianlah pula dengan kehadiran Islam di Jawa, sejak awalnya, Islam begitu mudah diterima, karena para pendakwanya menyampaikan Islam secara harmonis, yakni merenguh tradisi yang baik sebagai bagian dari ajaran agama Islam sehingga masyarakat merasa “ngeh” atau “enjoy” menerima Islam sebagai agamanya.








3
⦁    Rumusan Masalah
       Apakah bisa? Indonesia yang mempunyai budaya lokal berupa pagelaran wayang kulit yang diiringi dengan gamelan dan adanya pengajian yang digagas oleh Habib Syech, perlu yang diiringi oleh hadroh perlu dimaksimalkan peranya masing masing. Antara kru penabuh dan nara sumber kemanfaatannya agar bisa terus maju dan berkembang dengan mengadakan pagelaran yang berisi cerita yang bermakna dengan di iringi oleh gamelan dan hadroh.
⦁    Tujuan Penelitian
      Tujuan dari penelilitian yang kami lakukan adalah untuk pada masanya mengadakan pagelaran dengan memadukan antara pagelaran eayang kulit dengan pengajian yang di gagas oleh Syech Habib, untuk menghasilkan metode dakwah yang bisa diterima dimasyarakat dengan memadukan budaya lokal dan dakwah Islami yang benar dan shohih.
⦁    Manfaat
       Kemanfaatan yang barangkali bisa didapatkan oleh masyarakat ialah karena menndengarkan cerita sang tokoh yang legendaris yang bisa dijadikan teladan dalam membela tanah air dimana ia tetap istiqomah pada agamanya.
⦁    Metode
    Metode yang kami lakukan dalam penelitian ini adalah metode kwalitatif. Yakni meneliti dengan metode kajian pustaka, wawancara dan pengamatan






4
PEMBAHASAN
⦁    Memadukan Budaya Lokal dengan Dakwah Islami yang Shohih
      Memadukan budaya lokal dengan dakwah Islam yang benar atau shohih, perlu di galakkan di Indonesia, karena masyarakat Indonesia masih banyak yang hidup di pedesaan. Disamping jika pemaduan budaya lokal dengan dakwah Islam yang shohih bisa dikemas dengan menarik, bisa jadi juga akan menjadi daya tarik tersendiri di perkotaan dalam mendakwahkan Islam. Memadukan pagelaran wayang kulit atau wayang golek, yang juga di iringi dengan bukan hanya gamelan saja, akan tetapi bisa di hadirkan juga musik hadroh akan bisa menjadi daya tarik tersendiri.
   Dalam pementasan wayang yang biasanya mengunakan bahasa jawa, bisa dengan mengunakan bahasa Indonesia dengan tema  tampillan tokoh-tokoh bangsa atau pahlawan bangsa, seperti presiden ke dua kita, yakni bapak H. Soeharto atau Jendral Sudirman. Kematangan keduannya dalam menghadapi situasi bangsa yang kacau atau di jajah pada saat itu bisa disampaikan ke public agar bisa menjadikan hikmah, ibroh atau pelajaran dan teladan.
    Wayang kulit atau wayang golek bisa dibuat dengan bentuk dua tokoh tersebut dan orang-orang yang berada di sekeliling mereka ketika kedua tokoh tersebut masih hidup. Dalam pementasan tokoh tersebut misalkan bisa mengambil tema, “Keteguhan pak Harto”, dimana sang Dalang bermaksud ingin menyampaikan pesan kepada audien, lewat pementasan tersebut tentang kematangan sikap pak Harto manakala bangsa hampir coas. Banyak yang membisikkan agar beliaunya, rohimahulloh, melakukan kudeta kepada presiden RI pertama, yakni bapak Ir. Soekarno, akan tetapi pak Harto tidak melakukannya. Sebagaimana beliau katakan sendiri dalam buku yang di tulis oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H, dalam bukunya, “Soeharto”, Pikiran,

5
     Ucapan, dan tindakan saya. Otobiografi, dengan penerbit : PT. Citra Lamtoro Gung Persada tahun 1989 cetakan ke dua, halaman 176. “Di perjalanan ini ada yang berbisik-bisik pada saya, untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan. Tetapi tak pernah terlintas satu kali pun di benak saya untuk melakukannya. Maka saya menghindarkan diri dari godaan untuk berbuat seperti apa yang dibisikkan ke telingga saya itu. Saya tetap berpikir, memberi nafas pada kehidupan demokrasi sangat perlu, sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. Saya tetap teguh dalam pendirian, tidak akan mewariskan lembaran sejarah hitam  dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, menggunakan kekuatan senjata merebut kekuasaan (atau coup) sebab sekali terjadi akan bisa terus terjadi seperti di Amerika latin atau Afrika”.
     Dalang dalam pagelaran wayang tersebut yang menceritakan akan kacaunya apabila terjadi kudeta oleh militer, bisa di tengah-tengah pagelaran tersebut menyampaikan ayat-ayat atau hadits-hadits yang berkaitan dengan kedholiman atau kerusaakan yang akan di dapat jika memberontak. Di tengah-tengah pementasan bisa di selinggi musik gamelan dan hadroh yang melagukan atau menembangkan lagu-lagu atau tembang-tembang yang sarat dengan makna nilai-nilai perjuangan Islam yang sesuai dengan tema pagelaran. Tentunya, jika memang mengacunya pada perpaduan antara budaya lokal dan dakwah Islami yang shohih, para pemainnya juga dalangnya harus menyesuaikan, dengan adap-adap Islami. Contohnya dalam penyampaian cerita untuk dalang tidak boleh mengunakan banyolan-banyolan yang saru, semua warongenya atau penabuh gamelannya mengunakan busana yang menutup aurot, begitu juga dengan pesindenya. Kemudian ketika malam hari, tidak sepenuhnya digunakan untuk pagelaran terus sampai pagi.


6
     Ada jeda waktu untuk mengajak para kru pagelaran termasuk Dalangnya dan kru hadroh dan para penonton untuk sholat malam, tahsin al-Qur;an dan mungkin hafalan al-Qur’an satu juz bagi yang mampu. Jadi ada keterpaduan antara kegiatan pegelaran wayang yang merupakan budaya lokal dengan muatan-muatan Islami sebagai sarana dakwah.
       Berikut saya tuliskan sedikit bahan dalam pementasan, berkaitan dengan tema tentang, “Keteguhan pak Harto”. Dalam buku yang di tulis oleh dua orang, yakni : G. Dwipayana dan Ramadhan K.H. tertuanglah pikiran-pikiran apa yang disampaikan oleh pak Harto yakni :  Saya berpikir, menerawang, menyusuri kejadian-kejadian yang pernah kita alami sejak Republik kita berdiri, sampai terjadinya G.30S/PKI dan tantangan yang kita hadapi kemudiannya.
     Mengapa dapat timbul pemberontakan G.30S/PKI, mengapa pula selala 20 tahun kemerdekaan banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan lain sebelumnya, mengapa selama itu rintetan krisisi-krisis politik, mengapa sesudah 20 tahu merdeka, mengapa sesudah 20 tahun merdeka tingkat kesejahteraan rakyat tidak menunjukkan perbaikan yang berarti? Ini masalah-masalah pokok yang saya renungkan sambil duduk bersandar di kursi.
     Saya pikir, persoalan dan usaha memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan tadi pantas menjadi masalah pokok seluruh bangsa, masalah nasional yang utama dan mendesak. Semua pemimpin bangsa kita patut memikirkannya. Negarawan-negarawan kita pastas memikirkannya. Mahasiswa, pemuda, dan kaum wanita pastas merenungkannya. Cendikiawan kita, anggota-anggota ABRI patut memikirkannya.
Soeharto
Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya
Otobiografi
G. Dwipayana dan Ramadhan K.H
PT Citra Lomtoro GungPersada tahun 1989 cetakan ke 2 halaman 232
7

    Sebenarnya pegangan saya adalah ‘cipta, rasa karya”. Itulah falsafah hidup saya. Saya mempergunakan kelengkapan hidup kita yang diberikan Tuhan kepada kita, yakni panca indera kita, untuk mempertajam cipta, rasa, karsa itu.
     Memang tanggapan kita masing-masing terhadap sesuatu hal berbeda-beda. Pendengaran kita bisa berbeda, penglihatan kita pun bisa berbeda pula. Sebab itu, dilihat secara taktik dan strategi perang, ketrrangan militer saja masih merupakan suatu yang mentah, keterangan tadi perlu diolah lagi menjadi keterangan intelejen. Keterangan intelejen inilah yang merupakan  sesuatu yang sudah  matang, yang sudah dipercaya, sudah bisa dipakai sebagai ukuran.
     Begitu pun mengenai apa-apa yang kita dengar, apa-apa yang kita lihat, apa-apa yang kita raba. Semua itu mesti kita kumpulkan sehingga merupakan bahan untuk diolah, dimasukkan dalam “computer” kita, dalam ‘cipta’ kita. Lalu endapan itu semua, rasakan. Kalau kita sudah merasakannya cocok, kalau sudah ‘rasa’ mengatakan cocok, maka dengan sendirinya akan timbul ‘krentek’, niat. Maka setelah itu saya mengemukakan pilihan, dan saya mengambil keputusan.
    Teorinya begitu, semua orang bisa. Tetapi sesungguhnya, latihannya adalah yang utama. (134-134






8

Kesimpulan Saran dan Rekomendasi
Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran





























9

Selasa, 27 Februari 2018

Awal Produksi Abon Ayam

Setelah mendapat telpon dari seseorang yang mau pesan abon ayam dua ton, pada hari senin, tanggal,  19 Jumadil Ula 1439 H/5 Februari 2018 M, walaupun akhirnya tidak jadi, kami terdorong untuk membuat abon ayam, dengan nama, "Abon Ayam Klaten. Hari Sabtu tanggal 24 Jumadil Awal 1439 H/10 Februari 2018 M, kami membuat abon ayam dengan membeli daging ayam 1 kg. Setelah di proses menjadi 4 ons abon ayam. Tidak kami jual, tapi kami konsumsi sendiri. Kemudian hari Sabtu berikiutnya, tanggal 1 Jumadil Akhir 1439 H/17 Februari kami membeli 3 kg daging ayam, setelah di proses jadi 1,2 kg abon ayam. Kami jual laku 7,5 ons. Kemudian Sabtu berikutnya, tanggal 8 Jumadil Tasni 1439 H/24 Februari 2018 M, kami membeli daging ayam 3,5 kg, jadinya 1,5 kg, terjual 1 kg.

Jumat, 23 Februari 2018

Awal Mula Bisnis Abon Ayam

Ada tawaran pembelian abon ayam pada hari senin lewat telpon 2 ton pada tanggal 19 Robi'ul Tsani 1439 H atau tanggal 5 Februari 2018 walaupun akhirnya tidak jadi.

Minggu, 18 Februari 2018

Merek Abon Ayam Klaten

Klaten, Senin, 3 Jumadil Tsani 1439 H/19 Februari 2018 M
Alhamdulillah. Akhirnya kami memutuskan bahwa merek abon yang kami buat adalah : "Rizky".

Sabtu, 17 Februari 2018

Merek Abon Ayam Klaten

Klaten, Ahad, 2 Jumadil Tsani 1439 H/18 Februari 2018 M
Tadinya kami akan menamakan merek abonya adalah samson, barokah

Kamis, 15 Februari 2018

Kutbah Jum'at Berdakwah dengan Bijaksana

Klaten Jum'at, 1 Jumadil Tsani 1439 H/16 Februari 2018 M
PENTINGNYA SIKAP LEMAH LEMBUT DALAM BERDAKWAH
A. Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن, وَالصَّلاةُ والسَّلامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمْدٍ طهَ الأَمِيْنَ , وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطّاهِرِيْنَ, وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ , وَأَشْهَدُ أَن لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لاشَرِيْكَ لَهُ , وَلا ضِدَّ وَلا نِدَّ وَلا زَوْجَةَ وَلا وَلَدَ لَهُ , وَلاشَبِيْهَ وَلا مَثِيْلَ لَهُ , وَلاجِسْمَ وَلاحَجْمَ وَلاجَسَدَ وَلاجُثَّةَ لَهُ , وَلا صُوْرَةَ وَلاأَعْضَاءَ وَلا أَدَوَاتِ لَهُ, وَلا أَيْنَ وَلا جِهَةَ وَلاحَيِّزَ وَلا مَكَانَ لَهُ , كَانَ اللهُ وَلا مَكَانَ وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَان , فَلاتَضْرِبُوا لِلَّهِ الأَمْثَالِ, وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأَ عْلىَ, تَنَزَّهَ رَبِّيْ عَنِ الْجُلُوْسِ وَالْقُعُودِ ,وَعَنِ الْحَرَ كَةِ وَالسُّكُوْنِ وَعَنِ الاِتِّصَالِ وَالانْفِصَالِ ,لايَحُلُّ فِيْهِ شَيْء , وَلا يُحَلُّ مِنْهُ شَيْء , وَلا يَحُلُّ هُوَ فِيْ شَيْءِ ,لأَنَّهُ “لَيْس كَمِثْلِهِ شَيْءٌ”, “مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللهُ لا يُشْبِهُ ذَلِك”, “وَمَنْ وَصَفَ اللهَ بِمَعْنًى مِنْ مَعَانِى الْبَشَرِ فَقَدْكَفَرَ”, وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا وَعَظِيْمَنَا, وَقَائِدَنَا وقُرَّةَ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدًا ,عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَنَبِيُّهُ وَصَفِيُّهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ, صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى كُلِّ رَسُوْلٍ أَرْسَلَهُ .
اللهم صل وسلم وبارك على على سيدنا محمدٍ نورِ الأَنْوَارِ، وعلى آله وأصحابه الأخْيارِ وعلى التابعين لهم بإحسان ما بَقِيَ الليلُ والنهارُ.
أَمَّا بَعْدُ؛ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ – أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ – يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.
مَعَاشِرَ الْحَاضِرِيْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ
Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah (lemah lembut) dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Allah Ta’ala berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak  Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” (HR. Al-Bukhari no. 6024 dan Muslim no. 2165)
Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau telah bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak berada pada sesuatu melainkan dia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, tidaklah sifat itu dicabut dari sesuatu, melainkan dia akan membuatnya menjadi buruk.” (HR. Muslim no. 2594)
Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata:
قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ
“Seorang ‘Arab badui berdiri dan kencing di masjid. Maka para sahabat ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada mereka, “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air -atau dengan setimba besar air-. Sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesusahan.” (HR. Al-Bukhari no. 323)
مَعَاشِرَ الْحَاضِرِيْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ
 Ar-Rifq adalah sifat lemah lembut di dalam berkata dan bertindak serta memilih untuk melakukan cara yang paling mudah. (Fathul Bari syarh Shahih Al Bukhari)
Sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk berhias dengan sifat yang sangat mulia tersebut, karena ia merupakan bagian dari sifat-sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dengannya pula merupakan sebab seseorang dapat meraih berbagai kunci kebaikan dan keutamaan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat lemah lembut, maka ia tidak akan bisa meraih berbagai kebaikan dan keutamaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan hal ini kepada ‘Aisyah-istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ
“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut yang mencintai kelembutan dalam seluruh perkara.” (HR. Al Bukhari dan Muslim(
Sebagaimana disebutkan pula dalam sebuah hadits:
مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ
“Orang yang dijauhkan dari sifat lemah lembut, maka ia dijauhkan dari kebaikan.” (HR.Muslim)
Sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa sifat Ar-Rifq (lemah lembut) merupakan sifat yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan juga dengannya akan bisa meraih segala kebaikan dan keutamaan. Dengannya pula akan melahirkan sikap hikmah, yang juga merupakan sikap yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam berkata dan bertindak.
Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk-duduk bersama para shahabat radhiyallahu ‘anhum di dalam masjid. Tiba-tiba muncul seorang ‘Arab badui (kampung) masuk ke dalam masjid, kemudian kencing di dalamnya. Maka, dengan serta merta, bangkitlah para shahabat yang ada di dalam masjid, menghampirinya seraya menghardiknya dengan ucapan yang keras. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka untuk menghardiknya dan memerintahkan untuk membiarkannya sampai orang tersebut menyelesaikan hajatnya. Kemudian setelah selesai, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta untuk diambilkan setimba air untuk dituangkan pada air kencing tersebut. (HR. Al Bukhari(
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil ‘Arab badui tersebut dalam keadaan tidak marah ataupun mencela. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menasehatinya dengan lemah lembut:
“Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk membuang benda najis (seperti kencing, pen) atau kotor. Hanya saja masjid itu dibangun sebagai tempat untuk dzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al Qur’an.” (HR. Muslim(
Melihat sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang demikian lembut dan halusnya dalam menasehati, timbullah rasa cinta dan simpati ‘Arab badui tersebut kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia pun berdoa: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.” Mendengar doa tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya:
“Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)
(Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa doa Arab badui tersebut diucapkan sebelum ia buang air kecil. Wallahu a’lam)
مَعَاشِرَ الْحَاضِرِيْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ
            Betapa hati manusia itu, pada asalnya, adalah cenderung kepada sikap yang lembut dan tidak kasar. Betapa indah dan lembutnya cara pengajaran dari tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang yang belum mengerti. Dengan sikap hikmah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akhirnya melahirkan rasa simpati dan membuka mata hati Arab badui tersebut dalam menerima nasehat. Berbeda halnya tatkala perbuatannya tersebut disikapi dengan kemarahan, yang akhirnya melahirkan sikap ketidaksukaan. Hal ini bisa dilihat dari perkataannya: “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun bersama kami berdua.”
Selalu memberikan kemudahan kepada orang lain dan tidak mau mempersulit urusan merupakan ciri khas akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِيْنَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِيْنَ
“Hanya saja kalian diperintah untuk memudahkan dan bukan untuk mempersulit.” (HR.Al Bukhari(
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi mencintai kelembutan. Dia memberikan pada sifat kelembutan yang tidak diberikan kepada sifat kekerasan, dan tidak pula diberikan kepada sifat-sifat yang lainnya.” (HR. Muslim)
Hadits ini mengandung makna keutamaan sifat lemah lembut, anjuran untuk berakhlak dengannya, serta tercelanya sifat kasar dan keras. Sesungguhnya sifat lemah lembut merupakan sebab untuk meraih segala kebaikan.
Makna lafazh hadits, “Dia (Allah subhanahu wa ta’ala, pen) memberikan sesuatu pada sifat lemah lembut yang tidak diberikan kepada sifat kekerasan“, yakni bahwa dengan sifat lemah lembut tersebut, seseorang dapat melakukan perkara-perkara yang tidak akan bisa dilakukan dengan sifat yang menjadi lawannya yaitu sifat keras dan kasar. Ada yang mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan pahala pada sifat lemah lembut, yang tidak diberikan pada sifat yang lainnya.
Dengan sifat lemah lembut yang ada pada diri seseorang, dapat menyelamatkannya dari api neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang diharamkan dari neraka atau neraka diharamkan atasnya? Yaitu atas setiap orang yang dekat (dengan manusia), lemah lembut, lagi memudahkan.” (HR. Tirmidzi)
Ar-Rifq merupakan sifat yang harus dimiliki oleh setiap muslim, terkhusus seorang muslim
Termasuk diantara akhlak-akhlak yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang berdakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala adalah bersikap lapang dada, menampakkan wajah yang ceria dan bersikap lemah lembut kepada saudaranya sesama muslim.
Sifat tersebut akan mendorong untuk lebih mudah diterimanya dakwah seseorang tatkala ia menyeru ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala.
Bahkan terhadap orang kafir tertentu, terkadang perlu untuk bersikap lemah lembut dalam rangka melembutkan hati mereka untuk tertarik masuk ke dalam Islam. Telah diketahui bahwasanya Islam adalah sebuah agama yang ringan dan mudah bagi pemeluknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ
“Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Setiap orang yang berusaha mempersulitnya pasti akan kalah. Maka bersikap luruslah, mendekatlah kepada kesempurnaan, dan berilah kabar gembira, serta ambillah sebuah kesempatan pada pagi hari, petang serta sebagian dari malam.” (HR. Al Bukhari)
Islam juga memerintahkan kepada pemeluknya untuk bermuamalah dengan sifat lemah lembut kepada sesama manusia, dan bahkan terhadap binatang ternak sekalipun. Sebagaimana dalam hadits:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan untuk berbuat baik atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya (ketika hendak menyembelih), dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim(
Ketika seorang mukmin telah berhias dengan kelemahlembutan, maka akan membuahkan pada dirinya sikap kasih sayang kepada orang lain, dan akan melahirkan pada diri orang lain sikap kecintaan dan keridhaan, serta menumbuhkan sikap segan dari pihak lawan kepada dirinya. Sebaliknya, dengan sikap keras, kaku dan kasar akan membuat lari dan menjauhnya manusia, dan semakin mengobarkan api kebencian dari orang-orang yang menanam benih kebencian kepada dirinya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Sesungguhnya sifat lemah lembut tidaklah berada pada sesuatu kecuali akan membuat indah sesuatu tersebut dan tidaklah sifat lemah lembut dicabut dari sesuatu kecuali akan membuat sesuatu tersebut menjadi buruk.” (HR. Muslim(
Kesimpulannya adalah sepantasnya bagi seorang muslim untuk menghiasi dirinya dengan sifat Ar-Rifq didalam memerintahkan kepada perkara yang ma’ruf (kebaikan) dan melarang dari yang mungkar.
مَعَاشِرَ الْحَاضِرِيْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ
            Namun, yang perlu diperhatikan bahwa sifat Ar-Rifq tidaklah menunjukkan kelemahan atau ketidaktegasan seseorang dalam berkata dan bertindak. Bahkan dalam sifat Ar-Rifq sendiri, sebenarnya telah mengandung sikap tegas dalam amar ma’ruf nahi munkar (memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran). Dan tidaklah sikap tegas itu identik dengan sikap keras atau kasar. Dalam keadaan tertentu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap tegas dan keras. Diantara contohnya:
-Celaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perbuatan memanjangkan sholat tanpa memperhatikan keadaan orang-orang yang berma’mum. (HR. Al Bukhari)
-Sikap keras beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang yang makan menggunakan tangan kiri ketika diperintah untuk makan menggunakan tangan kanan. (HR. Muslim)
-Perkataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Celaka kamu” terhadap orang yang berlambat-lambat melaksanakan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menaiki unta. (HR. Al Bukhari)
-Kerasnya sikap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang (laki-laki) yang memakai cincin emas, setelah ia tahu bahwa perkara itu adalah perkara yang diharamkan. (HR. Muslim)
Dan diantara pedoman dan kaidah syar’i yang harus dipegang teguh dalam menghadapi kerasnya problem (fitnah) dalam kehidupan adalah hendaknya kita menghadapinya dengan sifat Ar-Rifq (lemah lembut), At-Ta’anni (tidak tergesa-gesa), dan Al Hilm (santun).
Maka hendaknya kita bersikap lemah lembut dan tenang/tidak tergesa-gesa dalam segala urusan dan janganlah menjadi orang yang mudah marah. Janganlah kita menjadi orang yang tidak mempunyai sifat ar-rifq, karena dengan sifat ar-rifq selamanya tidaklah akan membuat seseorang itu menyesal, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Tidaklah sifat ar-rifq tersebut berada dalam suatu perkara kecuali akan memperindahnya.
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.
بَارَكَ اللهُ لَنَا وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَ أَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

B. Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ  سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ.

Khutbah Jum’at ini al faqir sampaikan di Masjid Agung An Nuur Pare – Kediri – Jatim, Jum’at Wage, 22 Rabi’ul Awl 1432 H/ 25 November 2011 M
(Oleh: Arekk Ndesho)
No related posts

Senin, 12 Februari 2018

Apa yang Salah dan Apa yang Benar pada Poligami

Klaten, Senin, 26 Jumadil Ula 1439 H/12 Februari 2018 M, pukul 15:43



Poligami, ada yang dicontohkan sangat menarik dalam kehidupan sehari-hari, namun ada yang di contohkan sangat menyedihkan dan menyakitkan.
 

Sabtu, 10 Februari 2018

Abstrak Judul ke Dua

Abstrak

          Pagelaran wayang di Indonesia sejak zaman dahulu sampai sekarang masih eksis. Sunan Kalijaga pernah menggunakannya sebagai sarana dakwah. Disisi lain ada pengajian yang digagas oleh Habib Syech, yang banyak melantunkan sholawat. Berbeda dengan pagelaran wayang dimana yang lebih dominan berperan adalah dalangnya bukan krunya, adapun pengajian Habib Syech yang lebih dominan berperan krunya dan bisa didapatkan banyak manfaat dengan banyaknya lantunan sholawat.
           Dari dua hal diatas, yakni pagelaran wayang dan pengajian Habib Syech,  Maka timbul sesuatu gagasan bagaimana caranya menggabungkan agar sarat muatan manfaat dan yang banyak berperan adalah narasumbernya atau seimbang.
             Menggabungkan keduannya dalam dakwah Islam yang banyak mengandung manfaat dan hikmah perlu adanya inovasi baru. Untuk itu kami membuat suatu hal yang menjadi suatu ukuran pahala dengan menghitungnya.
             Kesimpulannya, bagaimana bentuk suatu kebudayaan dalam hai ini wayang yang bercerita tentang tokoh imajinatif di kemas menjadi cerita yang jelas asal-usul tokohnya di dunia nyata, dengan inovasi pagelaran tokoh kardus. Kami akan membuat penelitian dengan metode kwalitatif, yakni mengabungkan antara tinjauan lapangan dan tinjauan pustaka.
Kata Kunci : Pahala, Budaya Dan Dakwah.

Abstrak Judul Satu

Abstrak

         Pagelaran wayang di Indonesia sejak zaman dahulu sampai sekarang masih eksis. Sunan Kalijaga pernah menggunakannya sebagai sarana dakwah. Disisi lain ada pengajian yang digagas oleh Habib Syech, yang banyak melantunkan sholawat. Berbeda dengan pagelaran wayang dimana yang lebih dominan berperan adalah dalangnya bukan krunya, adapun pengajian Habib Syech yang lebih dominan berperan krunya dan bisa didapatkan banyak manfaat dengan banyaknya lantunan sholawat.
                      Dari dua hal diatas, yakni pagelaran wayang dan pengajian Habib Syech,  Maka timbul sesuatu gagasan bagaimana caranya menggabungkan agar sarat muatan manfaat dan yang banyak berperan adalah narasumbernya atau seimbang.
             Menggabungkan keduannya dalam dakwah Islam yang banyak mengandung manfaat dan hikmah perlu adanya inovasi baru. Untuk itu kami membuat suatu inovasi yang menggabungkan keduanya, yakni kami namakan, "Pagelaran Tokoh Kardus".
                 Kesimpulannya diatas adalah, bagaimana bentuk suatu kebudayaan dalam hai ini wayang yang bercerita tentang tokoh imajinatif di kemas menjadi cerita yang jelas asal-usul tokohnya di dunia nyata, dengan inovasi pagelaran tokoh kardus. Kami akan membuat penelitian dengan metode kwalitatif, yakni mengabungkan antara tinjauan lapangan dan tinjauan pustaka.
Kata Kunci : Pagelaran, Tokoh Kardus, dan Dakwah Islam.






Selasa, 06 Februari 2018

3 Kali Terjatuh Karena Kantuk

Klaten, Rabu, 21 Jumadil Ula 1439 H/7 Februari 2018 M
Ternyata saya tidak mampu untuk menahan kantuk dalam perjalanan berkendara motor. 1. Kali dimalam hari sekitar jam 12 malam dalam perjalanan pulang dari yogya. 2. Dalam perjalanan pulang kantor. 3. Hari ini dalam perjalanan ke kantor. Menjadi pengalaman untuk tidak begadang semalam suntuk. Aamiin.

In syaa Alloh Jadi Aktor Film. Aamiin.

Klaten, Rabu, 21 Jumadil Ula 1439 H/7 Februari 2018 M

Senin, 05 Februari 2018

Pelajaran Luar Biasa

Bismillaah.
Klaten, Selasa, tanggal 20 Jumadil Ula 1439 H, pukul, 11:57
Ketika menyampaikan undangan ke jamaah calo haji Kecamatan Delanggu Kabupaten KLaten, salahsatu dari jamaah tersebut jualan hik.

Islam Berharap

Bismillaah.
Klaten, Selasa, tanggal 20 Jumadil Ula 1439 H, pukul, 11:57
Jika bisa diibaratkan bahwa Islam adalah tokoh pahlawan yang sangat Ideal dan sempurna, maka bagaimana dengan suasana hari ini? Harapan selalu ada!