BAB I PENDAHULUAN
1. Tipologi Mistiskisme
a. Mististisme merupakan satu situasi dan kondisi pemahaman dan pengalaman yang diperoleh dari semacam ilham dengan tersingkapnya hakikat realitas.
b. Mistisisme hampir tidak dapat diterangkan secara deskriptif sehingga tidak
mungkin diinformasikan secara tepat dan persisi Karena ia merupakan feeling atau
situasi perasaan kejiwaan.
c. Mistiksisme adalah suatu kondisi kepekaan kejiwaan yang meletup-letup, dating
dan perginya mendadak tetapi meninggalkan kesan (persepsi) yang sangat kuat.
d. Bahwa kemampuan seseorang untuk sampai pada tingkat mistikus atau kondisi
mistik , datang dari luar dirinya yang merupakan satu kekuatan supernatrural.
Seorang mistikus berada dalam semacam kondisi pasif karena kondisi itu merupakan anugerah. Dalam lingkup inilah sufidme atau tasawuf dapat dilihat sebagai salah atu tipe mistisme religious yang mempunyai cirinya sendiri karena dilandasi dan dijiwai oleh konsep-konsep ajaran yang bersumber dari Tuhan.
2. SIMBOLIS SUFISME
Iman sufistik, sebagai suatu bentuk pengalaman sufisme, merupakan peta praksional, dengan mana percaya pada suatu sisi yang dipercaya manusia. Dengan begitu iman sufisme lebih merupakan tindakan (amal) dari pada suatu pengetahuan. Dalam simbolisasi sufisme tekanan terutama diberikan kepada peranan olah rasa.
3. MANUSIA DAN SPIRITUALITAS
Apabila dalam dunia mistik ditemukan beraneka istilah dan symbol, maka para sufi juga menggunakan istilah symbol yang berbeda dalam pengungkapan pengalaman spiritualnya, namun mereka memiliki kesamaan tujuan, yaitu untuk memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan.
BAB II Orientasi Dalam Tasawuf
1. PENGERTIAN TASAWUF
Tasawuf sebagai salah satu tipe mistisisme, dalam bahasa Inggris disebut sufisme. Kata tasawuf dipercakapkan sebagai satu istilah sekitar abad 2 hijriyah yang dikaitkan dengan salah satu jenis pakaian kasar yang disebut shuff atau wool kasar.
2. PERKEMBANGAN TASAWUF
Sejak munculnya dokrin fana dan itihad, terjadilah pergeseran tujuan akhir dari kehidupan spiritual. Kalau mulanya tasawuf bertujuan hanya untuk mencintai dan selalu dekat dengan-Nya sehingga dapat berkomunikasi langsung, tujuan itu telah menaik lagi pada tingkat penyatuan diri pada Tuhan. KOnsep ini berangkat dari paradidma, bahwa manusia secara biologis adalah jenis makhluk yang mampu melakukan transformasi atau transendensi melalui mi’roj spiritual kea lam ilahiyat. Berbarengan dengan hal itu, terjadi pula sikap pro dan kontra terhadap konsepsi al-ittihad yang menjadi salah satu sebab terjadinya konflik dalam dunia pemikiran Islam, baik intern sufisme maupun dengan teologi dan fiqih. Dua kelompok terakhir menuduh sufisme sebagai gerakan sempalan yang sesat.
3. SUMBER AJARAN TASAWUF
Tidak ada keraguan lagi tentang sumber tasawuf, ia digali dari al-Qur’an yang dikembangkan berdasarkan kehidupan Nabi dan para sahabatnya. Memang, dalam unsur-unsur tertentu ada kemiripannya dengan karakteristik mistisisme pada umumnya. Namun, seperti telah diuraikan terdahulu, gambaran itu tidak cukup kuat untuk dijadikan argumentasi bahwa tasawuf bersumber dari luar Islam. Kemiripan dan atau kesamaan itu terjadi karena berakar pada universalitas hakikat manusia itu.
4. ALIRAN TASAWUF
Dalam kenyataan dapat dilihat betapa banyaknya nama-nama tarekat yang pada mulannya hanya ada dua induk, yaitu dari Mesopotamia dan khurasan. Berdasarkan kode etik keilmuan dan penyajian yang lebih bersifat akademik, maka penulis membedakan tasawuf kepada dua aliran, yaitu Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi, karena tulisan ini tidak bermaksud mengadakan penilaian secara normative terhadap konsep-konsep tasawuf yang ada.
5. TUJUAN TASAWUF
Secara umum, tujuan terpenting dari sufi adalah agar berada sedekat mungkin dengan
Alloh.
6. MAKNA DEKAT DENGAN ALLOH
Dengan landasan piker sufisme menerjemahkan arti dekat dengan Alloh kepada tiga konsepsi. a.”Melihat dan merasakan kehadiran Alloh melalui anwar al bashirah atau mata hati yang menghadilkan ma’rifat al-Haqq dan atau hubbal-Ilahi. b.”Perjumpaan langsung yang secara simbolis anwar al-muwajahah, yakni kehadiran lahiriyah Tuhan atau wahdat ab-syuhud. c.”Ittihad atau manunggaling kawula gusti. Penyatuan manusia dengan Tuhan melalui fana.
BAB III Tasawuf Sunni
1. SUFI TERKENAL DAN AJARANNYA
a. Hasan al-Basri
Dasar pendiriannya yang paling utama adalah zuhd terhadap kehidupan dunia sehingga ia menolak segala kesenanga dan kenikmatan dunia.
b. Rabiah al-Adawiyah
Ajaran yang terpenting dari sufi wanita ini adalah al-mahabbah dan bahkan menurut banyak pendapat, ia merupakan orang pertama yang mengajarkan al-hubb dengan isi dan pengertian yang khas tasawuf.
c. Dzun al-Nun al-Misri
Jasa Dzun al-Nun al-Misri yang paling besar dan menonjol dalam dunia tasawuf adalah sebagai peletak dasar tentang jenjang perjalanan.
d. Abu Hamid al-Ghazali
Menurut al-Ghazali jalan para sufi dalamtasawuf, baru dapat terealisir apabila telah dapat dilumpuhkan hambatan-hambatan jiwa serta membersihkan diri dari sifat-sifat yang buruk, sehingga qolbu dapat terbebas dari pengaruh segala sesuatu selain Alloh.
2. TASAWUF AKHLAK
Sistim pembinaan akhlak itu mereka susun sebagai berikut :
TAKHALLI : Langkah pertama yang harus ditempuh adalah usaha mengosongkan diri dari sikap ketergantungan terhadap kelezatan dunia.
TAHALLI : Sesudah tahap pembersihan diri dari segala sifat dan sikap mental tidak baik dapat dilalui, usaha itu harus berlanjut ke tahap kedua yang disebut tahalli. Kata ini mengandung pengertian, menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sifat dan sikap serta perbuatan yang baik.
TAJALI : Dalam rangka pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli, maka rangkaian pendidikan itu disempurnakan pada fase tajalli. Kata ini berarti terungkapnya nur gaib bagi hati.
3. TASAWUF AMALI
Apabila dilihat dari sudut tingkatan amalan dan fasenya serta jenis ilmu yang dipelajari, maka terdapat beberapa istilah yang khas dalam dunua tasawuf, yaitu ilmu lahir dan ilmu batin. Menurut mereka, ajaran agama itu mengandung dua aspek makna, makna lahiriyah dan makna batiniyah, makna terakhir ini merupakan inti dari setiap ajaran itu. Oleh karenanya, untuk mengetahui dan mengamalkannya harus secara bersamaan dan tidak boleh mengabaikan aspek yang satu dari aspek lainnya. Secara tewrinci, keduan aspek itu mereka bagi kepada empat bidang dan kualitas, yaitu syari;at, thariqat, hakikat dan ma’rifat.
4. JENJANG MENUJU SUFI (AL-MAQOMAT)
Diantara metode umum adalah melalui riyadhah atau latihan yang intensih dan berkesinambungan. Adapaun tahapan-tahapan yang harus dilalui ialah : TAUBAT, AL-ZUHD, AL-WARA, AL-FAQR, AL SHABR, AL-TAWAKKAL, AL-RIDHA.
5. AL-MAHABBAH DAN AL-MA’RIFAH
Al-Hubb atau mahabbah adalah satu istilah yang selalu berdampingan dengan ma’rifat, karena nampaknya manivestasi dari mahabbah itu adalah tingkat pengenalan kepada Tuhan yang disebut ma’rifat.
Paham al-Hubb atau Mahabbah buat pertama kalai diperkenalkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah yang lahir di Basyrah tahun 95 H, dan meninggal dunia 185 H. Menurut Rabi’ah , al-Hubb itu adalah rindu dan pasrah kepada Alloh.
6. KARRAKTERISTIK SUFI (AL-AHWAL)
Menurut sufi, al-ahwal –jamak dari al hal – dalam bahasa Inggris disebut state, adalah situasi kejiwaan yang diperoleh seorang sufi sebagai karunia Alloh.
BAB IV Tasawuf Filsafati
1. KONSEPSI TEOLOGI SUFISME
Dengan memperhatikan perkembangan tasawuf serta tipologinya, secara global dapat diformasikan adanya tiga konsepsi tentang Tuhan, yaitu ; konsepsi etika, konsepsi estetikal, dan konsepsi union mistikal
2. Al-FANA
Menurut Abu Yazid, manusia pada hakikatnya seesensi dengan Alloh, dapat bersatu dengan-Nya apabila ia mampu meleburkan eksistensi (keberadaan dirinya) sebagai suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari pribadinya (fana ‘an nafs).
3. AL-ITTIHAD
Apabila seorang sufi berada dalam keadaan fana dalam pengertian tersebut di atas, maka pada saat itu ia telah dapat menyatu dengan Tuhan, sehingga wujudiyah-nya kekal atau al-baqa. Di dalam perpaduan itu ia menemukan hakikat jati dirinya sebagai manusia yang berasal dari Tuhan, itulah yang dimaksud dengan al-ittihad.
4. AL-HULUL
Dokrin al-hulul adalah salah satu tipe dari aliran taswuf falsafi dan merupakan perkembangan lanjut dari al-ittihad. Konsepsi al-hulul pertama kali ditampilkan oleh Husein Ibn Mansur al-Hallaj yang meninggal karena dihukum mati di Baghdad pada tahun 308 H, karena faham yang ia sebarkan itu dipandang sesat oleh penguasa pada masa itu.
Pengertian al-hulul secara singkat ialah, Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat membersihkan dirinya dari sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana atau akstase.
5. AL-WAHDAT AS-SYUHUD
Konsepsi al-wahdat as-syuhud mirip dengan paham al-wadat al-wujud (Ibn Arabi). Fananya yang asyik mencintai ke dalam yang dicintai sehingga ia tengelam dalam kemanunggalan dan tidak merasakan serta tidak melihat (syuhud) sesuatu selain Alloh yang Maha Tunggal.
6. AL-ISRAQIYAH
Konsep tasawuf al-Isyraq, barangkali adalah tipe tasawuf yang paling orisinil diantara konsep-konsep tasawuf yang sealiran. Al-Isyraq berarti bersinar atau memancarkan cahaya dan nampaknya seperti al-kssyf.
BAB V Tasawuf Filsafi Ibn Arabi
1. ESTIMOLOGI
Istilah epistemoligi sebenarnya hampir sama tuanya dengan filsafat itu sendiri. Apakah pengetahuan itu, dari mana pengetahuan diperoleh, dapatkah akal menemukan pengetahuan, dan lain-lain pertannyaan yang terkait.
2. Al-WAHDAT AL-WUJUD
Paham ini merupakan perluasan dari paham hulul. Makhluk adalah bayangan sedangkan al-Haqq adalah Yang Maha Suci dan makhluk adalah tiruan”. Artinya, seperti telah disebutkan terdahulu bahwa tajalli Tuhan pada alam adalah dalam pengertian sebagai manifestasi Wujud Tuhan secara transsenden pada segenap makhluk, bukan imanen pada alam. Dari pada -Nya segala yang berasal dan kepada-Nya pula semuanya akan kembali, inilah intri doktrin Wahdat al-Wujud atau “kesatuan Wujud”.
3. TUJUAN PENCIPTAAN ALAM
Konsep sentral dari tasawuf Ibn Arabi adalah bahwa yang ada hanya Satu yakni Dzat Tunggal, tidak ada yang meng”ada” selain dirinya. Wujud alam adalah maujud (yang mempunyai wujud) atau wujud panjaran Tuhan (baca Alloh), tetapi kepada sebagai milik-Nya, sesuai dengan pernyataan Ibn Arabi: “Kalau tidak karena Wujud Tuhan, maka tidak akan ada alam ini”.
4. TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA
Manusia adalah wujud satu-satunya yang menampung semua prinsip-prinsip kebesaran Tuhan di bumi (khalifatuh fi al-ardhih). Manusia adalah image dari Tuhan dan sebagai mikrokosmos, ruh dari alam.
5. INSAN KAMIL
Gambaran manusia dalam tasawuf Ibn Arabi adalah manusia dan makhluk tersempurna dalam hubungan dengan kualitas kejadian dan kualitas kemampuan dan kefungsian. Konsepsi ini ini memperlihatkan, bahwa setiap manusia memiliki otonomi pribadi dan kemampuan untuk meningkatkan jati dirinya ketingkat yang “menyerupai” Tuhan. Hal ini berarti, bahwa bagi setiap orang terbuka kemungkinan dan peluang untuk mencapai kualitas Insan Kamil melalui proses sufistis.
BAB VI Tasawuf di Indonesia
1. SEJARAH PERKEMBANGANNYA
Diskusi tentang keberadaan tasawuf di Nusantara, tidak bisa lepas dari pengkajian Islamisasi di kawasan ini. Dari sekian banyak naskah-naskah lama yang berasal dari Sumatra, baik yang ditulis dalam bahasa Arab maupun bahasa Melayu, adalah berorientasi sufisme. Semenjak penyiaran Islam di Jawa diambil alih oleh kerabat keraton, kelihatannya secara pelan terjadi proses akulturasi sufisme dengan kepercayaan lama dan tradisi lokal.
2. REFORMASI SUFISME DI INDONESIA
Demikianlah pengaruh gerakan Wahabiyah yang di-inspirasi ajaran Ibn Taimiyah, saampai di Indonesia. Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam yang menganut paham Ahlusunnah wa Jama’ah, adalah pendukung dan penghayat tasawuf. Tanpa ragu Hamka menulis, bahwa tasawuf di Indonesia sejalan dan sedarah daging dengan mazhab Ahlusannah wal - Jama’ah. Demikianlah perkembangan yang nyata dari sufisme di Indonesia, terkesan adalah diwarnai tarekat sehingga tarekat diidentikkan dengan tasawuf.
3. ALIRAN TASAWUF DI INDONESIA
Dengan semakin semakin kuatnya pengaruh mazhab Syafi’I, maka sufisme yang dipelajari di pesantren adalah Tasawuf Sunni yang bersumber dari tasawuf al-Ghazali.
BAB VII Tazkiyah An-Nafs Dalam Tasawuf
1. PENGERTIAN AN-NAPS
a. An-Nafs-Menurut Bahasa
Dalam bahasa harian , “nafsu” kerap diartikan sebagai “tenaga” atau daya yang ada pada diri setiap orang. Dalam kaitan ini “nafs” yang paling populer dan akrab dalam istilah ini, adalah “nafsu sahwat” atau dorongan seksual.
b. An-Nafs dalam Al-Qur’an
Apabila dibuka dalam Al-Qur’an, kata “nafsu” nampaknya berasal dari “nafs”, yang kata jamaknya “anfus” dan “nufus” yang diartikan sebagai “jiwa”-diri- pribadi- ”hidup”-pikiran’-hati’-yang dalam bahasan Inggris sisebut sou, Psyche dab nous..
2. AN-NAFS DALAM TASAWUF
An nafs dalam tasawuf adalah jati diri manusia itu sendiri, yakni daya-daya yang memiliki khas manusiawi yang berasal dari alam Ilahiyat dan alam kainat. Kemasan dari keseluruhan daya-daya itu mewujudkan dalam bentuk individual, disebut ‘an nafs” atau jiwa.
3. METODE TASKIYAH AN - NAFS
Takhalli, tahalli, tajalli
4. NAFS MUTMAINNAH, PROSES PEMBUDAYAAN
Semua aliran sufisme sepakat, bahwa dzikir yang dilaksanakan secara teratur dan benar akan membuahkan rasa ketenangan dan kebahagiaan. Dalam rangka upaya menjadikan dzikir sebagai kebutuhan hidup dan kehidupan dan pembinaan suasana yang kondusif untuk mengabadikan dan pembinaan suasana yang kondusif untuk mengabadikan “nafs muthmainnah dalam diri, maka diperlukan sikap disiplin dan istiqomah dalam lima hal, yakni :
Mu’ahadat, yakni selalu ingat dan sadar akan janji yang telah diikrarkan kepada Alloh. Muhasabah, memikirkan, menganalisis dan memperhitungkan secara teliti dan jujur segala apa yang sudah dan akan dilakukan. Mu’aqabah, yakni pemberian sanksi kepada diri sendiri apabila kenyataan hasil muhasabah menunjukkan nilai kurang walaupun sekecil apapun, Muraqabah, yakni kesadaran rohaniah tentang “kebersamaan” dengan Alloh dalam segala suasana. Mujahadah, yakni perjuangan dalam arti luas. Kemauan dan kemampuan mengerakkan segala daya dan upaya secara sungguh-sungguh untuk mengalahkan godaan hawa nafsu.
BAB VII Sekitar Tarekat
1. KORELASI TAREKAT DAN TASAWUF
a. Pengertian Tarekat
Kata tarekat berasal dari bahasa Arab-thoriqoh-yang artinya jalan, cara, aliran atau metode.
b. AntaraTarekat dan Tasawuf
Berdasarkan pemaknaan tarekat tadi, terlihat bahwa lembaga tarekat adalah salah satu bentuk kelanjutan usaha para sufi terdahulu dalam menyebarkan tasawuf sesuai pemahamannya.
c. Perkembangan Tarekat
Kehidupan tarekat di Indonesia cukup subur dan banyak pengikut, karena sesuai dengan kultur masyoritas bangsa ini. Diantaranya : Qodariyah, Nasqsyabandiyah, Sammaniyah, Khalidiyah, Rifaiyah, dan Khalwatiyah.
2. KODE ETIK TEREKAT
a. Hubungan Guru dan Murid
Dalam tradisi tarekat, otorotas mursyid atau guru terhadap murid sangat dominan sehingga ia dapat membentuk karakter muridnya sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai.
b. Visi dan Misi Tarekat
Untuk menjaga konsisitensi arah dan tujuan tarekat, maka masing-masing tarekat memiliki pola dasar sikap dan perilaku yang sekaligus merupakan identitas tarekat itu.
c. Amalan Wirid Dalam Tarekat
Setiap tarekat memiliki wirid tertentu sesuai dengan tradisinya masing-masing. Namun, dari sekian banyak ragam jenis wirid, nampaknya yang paling banyak digemari dan diamalkan tarekat, ada tiga macam lafazh wirid, yaitu : wirid istighfar, wirid shalawat, wirid dzikir.
3. WASHILAH DAN RABITHAH
Washilah berarti :hubungan” atau penghubung. Rabithah hampir sama dengan washilah, yakni “ikatan” atau “pertalian”.
4. SULUK DALAM TAREKAT
Pemaknaan suluk hampirsama dengan tarekat, yakni cara mendekatkan diri pada Tuhan.
a. Macam-macam suluk
1) . Suluk dzikir. 2). Suluk Riadhah. 3). Suluk penderitaan. 4). Suluk pengabdian. 5). Suluk tazkiyah an nafs. 6). Suluk qolbu. 7). Suluk sirr. 8). Suluk Ruh.
b. Aktivitas Dalam Suluk
1) . Tahkim. 2). Berbekal taqwa. 3). Himmah. 4). Melaksanakan syariat. 5). Khalwat. 6). Dzikir. 7). Mentaati guru.
BAB IX Neo - Sufisme
1. PENDAHULUAN
Dalam suasana kehidupan yang menyesakkan kemerdekaan nurani, masih banyak tokoh dan pemikir yang menyuarakan harapan, bahwa “pesan-pesan sufisme lebih urgen di dunia yang semakin materialistik- konsumeristik, demikian Syeikh Fadhlalla Haeri, salah seorang pendukung Neo-Sufisme.
2. SUFISME AWAL
Sejak dekade akhir abad II Hijriah, sufisme sudah populer dikalangan masyarakat dikawasan dunia Islam, sebagai perkembangan lanjut dari gaya keberagaman para zahid dan abid - kesalehan asketisme yang mengelompok di serambi masjid Nabawi.
3. SUFISME-ORTHODOKS
Sufisme orthodoks sudah populer pada abad ketiga sebagai tandingan sufisme populer yang didukung sepenuhnya oleh kaun Syi’ah. Sufisme orthodoks ingin mengawal kesuciaan sufisme agar tetap berada dalam wilayah Islam yang murni.
4. SUFISME THEOSOFI
Sufisme sebagai ilmu teoritis maupun praktis telah sampai pada tingkat kematangannya, yang ditandai dengan terpilahnya sufisme kepada dua aliran bedar atau aliran induk, yakni sufisme Sunni dan sufisme Syi’I yang disebut juga sufidme falsafi atau sufisme theosofi.
5. NEO SUFISME
Terminologi Neo-Sufisme pertama kali dimuncul oleh pemikir muslim kontemoorer, yakni Fazlur Rahman dalam bukunya “Islam”. Di Indonesia ada Hamka, yang telah menampilkan istilah tasawuf madrn dalam bukunya “Tasawuf Modrn”, tetapi dalam buku tersebut tidak ditemui kata Neo-Sufisme.
Menurut Fazlur Roahman, perintis apa yang disebut sebagai Neo-Sufisme, adalah Ibn Taimiyah (w. 728 H) yang kemudian diteruskan oleh muridnya Ibn Qoyyim, yaitu tipe tasawuf yang terintegrasi dengan syariah.
6. CIRI NEO-SUFISME
Menurut Fazlur Rahman selaku penggagas istilah ini, neo-sufisme adalah “reformed sufisme”, sufisme yang telah diperbaharui. Neo-sufisme menjadi satu-satunya alternatif culture yang dapat meng-conter cultur materialistik-konsumeristik dan hedonis.
7. GAGASAN DAN HARAPAN
Setiap muslim harus mengakui dan menyadari betapa pentingnya spiritualitas dalam Islam, tetapi juga harus diingat bahwa al_Qur’an menyatakan dunia ini adalah real bukan fatamorgana, bukan pula maya tanpa makna.
,
1.