Kamis, 25 Februari 2016

Cerita yang Menyayat Hati (www.sanggarannahel.com, tulisan no. 187)

Jum'at Legi, 17 Jumadil Ula 1437 H
Tukang tambal ban di sebelah timur Pasar Bunder, Sragen, Supono, 55, nekat menenggak cairan pembasmi rumput merek Gramaxone di pekarangan belakang rumahnya di Dukuh Ngarum Rt. 4, Desa Ngarum, Kec. Nrampal, Sragen, Rabu (24/2) pukul 13.00 WIB. Dia di kenal sebagai warga yang baik dan ramah. Sejak anak bungsunya meninggal dunia 20 hari yang lalu Supono terlehat murung. Supono mengaku penasaran dengan penyebab kematian anak perempuannya itu. Anak bungsunya itu meninggal dengan cara bunuh diri di Tanggerang. Penyebabnya, mungkin masalah keluarga. Sejak itu Supono jadi pendiam. Kemudian dia malah minum racun pembasmi rumput yang akhirnya merengut yawanya juga, menyusul anak bungsunya. (Solo Pos, Jum'at Legi, 26 Februari 2016, Berita Utama, halaman 3, ringkasan)

Minggu, 21 Februari 2016

Cerita Dewasa, Jangan Anggap Biasa (www.sanggarannahel.com, no. 184)

Senin, 22 Jumadil Awal 1437 H
Bismillah
Hari-hari ini, kita mendengar, kata-kata, yang bagi agama apapun akan berusaha untuk mencegahnya, agar tidak terjadi  praktek hal-hal tersebut. Kata-kata, prostitusi, lesbian, gay, biseksual dan transgender. Dimana kata-kata tersebut bagi orang awam, sangatlah asing, kecuali mungkin kata-kata prostitusi. Sungguh, jika hal-hal tersebut diatas, yakni 5 hal yang di tulis tebal diatas dilakukan oleh orang yang beragama Islam, maka menjadi kewajiban kita semua, untuk menasehatinya. Terutama mungkin prostitusi. Jika ia beragama Islam, maka menjadi pertanyaan. Apakah ia tidak faham terhadap agama yang ia peluk? Atau Ia sesungguhnya faham, tapi Ia tidak mengindahkannya. Sebagaimana mungkin terjadi pada cerita di bawah ini. Seseorang yang bekerja sebagai karyawan swasta, mendaftarkan diri untuk menikah di usia 50 tahun, sudah punya anak laki-laki berumur 29 tahun dan anak perempuan berumur 26 tahun. dalam pendaftaran di pernikahanya, ia melampirkan akte gugutan cerai dari istrinya, yang terkabulkan pada tahun 2013. Calon istrinya mempunyai anak 2 , juga dengan dirinya, yang mereka semua sudah pada dewasa, dan sudah ada yang bekerja dan lulus SMA. Sang suami berpamitan kepada istrinya untuk merantau keluar jawa, ternyata di luar jawa Dia kecantol dengan wanita lain, sampai mempunyai anak. Yang sekarang mengajukan nikah secara resmi. Istri pertama begitu lama di tinggalakan sang suami, tidak di beri nafkah. Disini juga timbul pertanyaan, apakah betul sang lelaki tersebut telah nikah siri? kalau belum berartikan sang perempuan melakukan praktek prostitusi secara terselubung. Jangan-jangan hal-hal seperti itu bagaikan gunung es, artinya yang di ketahui cuman sedikit, padahal aslinya banyak terjadi di masyarakat hal-hal seperti itu. Mari, walaupun setahab-demi setahab, kami mengajak kepada semuanya, agar perdulu, kepada praktek-praktek perbuatan keji dan mungkar. Sampai-sampai monyetpun sangat murka, terhadap perbuatan keji tersebut. Sebagaimana Imam Bukhori rahimahullah, menceritakan dari sahabatnya rahimahullah, tentang monyet-monyet yang sangat murka, kepada 2 temanya yang berselingkuh, sehingga mereka berdua kera rajam. (blog : menginstal akhlak)

Selasa, 16 Februari 2016

Dunia Seni. Akan terbit buku ke 2

Bismillah. Insya Allah, di bulan Maret 2016, An Nehel Media, akan menerbitkan novel, dengan judul, “Cinta Remaja 4 +1.  Insya Allah, mudah-mudahan bisa bermanfaat, bagi orang tua dan remaja, aamiin. Iklan ini ada juga di, facebook, trimo, dan di www.sanggarannahel.com. Mudah-mudahan, bisa juga di presentasikan disekolah-sekolah dan remaja Masjid, aamiin.
IMG_6092

Cinta Remaja 4 + 1 (www.sanggarannahel.com no. 181, buku ke 2

Senin, 6 Jumadil Awal 1437 H/15 Februari 2016 M
Cinta Remaja
4 + 1
Mengangis sesengukan seorang istri bernama Nikmatuniyah Mudrikah, di serambi masjid, terbayang tadinya, jualanya bisa laku keras, sehingga bisa mendapatkan uang yang cukup, untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, begitulah takdir Allah, menentukan lain, manusia bisa berencana, tapi Allah lah, yang menentukan semua perkara manusia. Allah lah, yang menentukan berhasil dan tidaknya seseorang. Tentuya Allah subhanahu wa ta ‘ala, tidak akan pernah dhalim kepada makhluknya. Semua diberi kesempatan yang sama. Manusia harus bekerja keras, untuk bisa mendapatkan kesuksesan.
Sang suami juga ikut menitikkan air mata, betapa istri, ikut bersusah payah menaggung kehidupan yang mereka alami. Dengan anak empat yang masih kecil-kecil, dan gaji tiap bulan hanya 300.000, maka suami istri tersebut berusaha untuk mencari penghasilan tambahan, agar bisa mencukupi kebutuhan hariannya. Kala itu, Nikmatuniyah Mudrikah dan suaminya Trimo, pergi ke Yogyakarta, tepatnya ke Desa bangun Jiwo, Bantul. Perjalanan dari Klaten ke Bantul di tempuh sekitar 1,5 jam, perjalanan motor.
Berdua mereka menemui mas Agus Mulyono, karyawan Majlis Dikti (perguruan tinggi) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, untuk meminjam uang 300.000, agar bisa mencukupi untuk kebutuhan sebulan. Dalam perjalanan pulang, mereka berdua mampir ke alun-alun selatan, dengan maksud melihat-lihat, apakah ada kesempatan bisa ikut berjualan sesuatu di sekitar alaun-alun selatan tersebut.
Terlihat, begitu larisnya seorang ibu yang berjualan jagung bakar, maka terpikir dalam benaknya, bisa tidak ya? Kita ikut berjualan jagung bakar di sebelah tempat yang kosong? Yang agak berjauhan dari jualannya ibu tersebut berkomentar Nikmatuniyah Mudrikah kepada suaminya, insya Allah bisa, ya, kita coba saja, siapa tahu rejeki kita komertar balik Trimo, suaminya.
Paginya Trimo pergi ke pasar Gabus, Jatinom. Pasar yang ramai, dengan motor bututnya, Trimo membeli setengah karung, jagung mentah, dengan maksud malamnya akan di jual di alun-alun selatan. Setelah membayar harga jagung sekitar 50 biji jagung Trimo pulang ke rumah kontrakannya. Sang istri menyiapkan alat-alat yang digunakan untuk membakar jagungnya, begitu juga, apa-apa yang akan bisa membuat jagung terasa enak.
Berangkatlah Nikmatuniyah Mudrikah, Trimo dan anaknya yang masih berumur 2 tahun Aisyah Az-Zahrah. Mereka tidak tega meninggalkan anaknya yang masih usia balita dirumah. Tiga anaknya yang lain, mereka sebenarnya keberatan di tinggal abi uminya, tapi, dengan penjelasan yang disampaikan abi dan uminya, akhirnya, mereka menerima.
Sesampai di Alun-Alun selatan, mereka kaget, karena ternyata Alun-Alun selatan begitu sepinya, sangat jauh berbeda sekali dengan malam kemaren. Pak ada apa ya pak? Ko para penjual tidak ada semua? Nikmatuniyah Mudrikah bertanya pada pak Becak yang sedang parkir di pingir jalan dekat Alun-Alun Selatan. Oh ia mba, besok akan ada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, jadi malam ini di sterilkan, tidak boleh berjualan, untuk sementara di Alun-Alun Selatan, oh begitu ya pak, nggeh nuwun.
Pulanglah sang suami istri tersebut ke Klaten, dimana sebelum sampai Kalasan, mampir dulu di masjid yang dekat dengan jalan besar. Maka disitulah Nikmatuniyah Munanggis tersedu-sedu, yang di tenangkan olen Trimo suaminya, sabar mi, belum rejeki kita. Mari kita pulang, i bi, maaf umi menaggis, ya nga pa-pa, abi juga ikut terharu, sampai abi juga ikut menanggis. Yang sabar ya bi, sang istri balik menguatkan suaminya, ya isya Allah, abi sabar.
Dalam perjalaan pulang kerumah kontrakan, dalam diamnya, Trimo tak bisa menahan perasaannya, ia akhirnya menanggis sesengukan juga, teringat akan kejadian-kejadian yang membuatnya menaggis, kejadian ketika di keluarkan dari tempat pekerjaanya, di sebuah pondok pesantren, yang kala itu menjadi pengasuh asrama putri. Malam itu juga dengan mengunakan motor, Trimo dan istrinya, serta ketiga anaknya pulang ke rumah orang tuanya di Tegal.
Bercucuran air mata di kamar sebelah asrama putri, sebuah kamar yang dikhususkan untuk pembimbing asrama. Menaggisnya Trimo, karena tidak siapanya, ketika akan di keluarkan dari pekerjaannya semula, setelah 4 tahun bekerja, sebagai pengasuh asrama putri, di lembaga tersebut, dengan tangunggan seorang istri dan tiga anak yang masih kecil-kecil. Begitu juga kembali bercucuran air mata ketika berpamitan dengan kepala sekolah swasta di lain yayasan, dimana Trimo disitu mengajar bahasa Arab, 6 jam di tiga kelas, kelas 1 sampai kelas 3 SMP Al-Islam. Tidak mungkin bisa mengandalkan gaji ngajar di SMP Al-Islam tersebut, karena tiap bulan hanya dapat 40.000.00, jadi, pamit juga untuk pulang dulu ke rumah orang tuannya.
Bersyukur sekali, karena, walaupun di keluarkan dari pekerjaanya, masih dapat pesangonm 1,5 juta. Insya Allah bisa cukup untuk kebutuhan selama 2 bulan. Hidup di Tegal, sebagai kota kelahiran Trimo, membuatnya canggung, karena, sejak tamat Sekolah Dasar, Trimo sudah tidak lagi di Tegal, tapi di bawa oleh almarhum pak Bu Harjo ke Yogyakarta, yang teryata di masukkan ke sebuah Madrasah, yaitu Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Selama 6 tahun mengenyam pindidikan disana.
Setelah lulus dari Madrasah, ada pangilan menjadi pengasuh pondok pesantren di Klaten. Maka Trimo, pergi ke Klaten, untuk memenuhi pangilan pekerjaan tersebut. Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam. Dimana setelah 5 tahun menjadi pengasuh di pondok pesantren tersebut, Trimo diminta untuk menjadi pengasuh di sebuah lembaga swasta, di sebuah pondok pesantren juga. Waktu itu di minta oleh almarhum direktur dari pondok pesantren tersebut. Di lembaga tersebut, Trimo bekerja selama 4 tahun. Sang di rektur meniggal dunia kecelakaan, dalam perjalanan malam, mengunakan sepeda motor, Semarang-Klaten. Sepertinya beliau, rahimahullah, bapak Farid Ma’ruf, Lc, dalam kondisi kecapaian, dari pagi sampai malam beraktifitas, kemudian pagi berikutnya harus ke semarang, untuk melengkapi berkas-berkas sebagai petugas Haji. Dalam perjalanan ke Klaten dari Semarang, motor oleng dan menabrak pohon besar, beliau, rahimahullah, sempat sadar dan dibawa kerumah sakit, akhinya meninggal dunia.
Kembali air mata bercucuran, ketika ikut melayat, dua tahun bergaul dengan beliau, menjadikan kesedihan, ketika di tnggal oleh beliau. Seorang direktur sebuah madrasah, yang mengayomi bawahannya, dan seorang aktifis dakwah yang selalu bersemangat. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’la meridhainya, aamiin
Tidak lama hidup di tegal, maka, Trimo dan keluarganya, kembali ke Klaten, tempat kelahiran istri dan anak-anaknya. Tidak sedikit kenalan di Klaten yang semuannya adalah orang-orang yang baik. Dengan hal tersebut, isya Allah, akan ada pekerjaan lagi, yang dapat untuk mencukupi kehidupan keluarga. Allah Maha Rahman dan Rahim, untuk sementara, Trimo dan keluarganya, menempati satu ruangan kecil, di sebuah lapangan, yang tidak ada kamar mandinya, jadi disitu hanya untuk bermalam, kemudian kalau keperluan yang membutuhkan air, jalan dulu sekitar 200 meter. Ke sekolah yang ada kamar mandinya, pagi-pagi sebelum ana—anak sekolah datang Trimo dan keluarganya, harus sudah selesai, menggunakan kamar mandi sekolah.
Tidak lama, Trimo dan keluargannya, berada di satu kamar kecil di pingir lapangan tersebut, karena, ada sahabat yang mendengar tentang keberadaan Trimo dan keluarganya yang sedang kesulitan. Dia adalah mas Hanif Hardoyo, pemilik sebuah penerbitan bernama Inas Media. Sebuah penerbitan, dengan misi, “ Inspirasi Keshalihan Anda.”
Trimo dan keluarganya, ditempatkan di sebuah rumah yang bagus, juga diberi pekerjaan, sebagai editor pendamping, di samping editor yang sudah ada dan utama. 6 Bulan Trimo dan keluarganya menempati rumah tersebut, dimana setelah itu, Trimo dan keluarganya, di boyong ke Jayapura, papua, untuk menjadi pengasuh panti Asuhan disana.
2 tahun menjadi pengasuh panti asuhan di Distrik Abepura, Jayapura. Akhirnya pulang lagi ke Klaten, karena ada pangilan CPNS sebagai Honorer Penyuluh Agama Islam. Setahun berjalan di Jayapura, kakak kandungnya, mas Trisno, minta supaya di carikan pekerjaan di Jayapura. Alhamdulillah, dapat pekerjaan, sebagai sopir angkot.
Ketika Trimo dan keluarganya, mau pulang ke Jawa, mas Trisno, ditawari untuk pulang bersama, tapi beliaunya tidak mau, karena masih berkeinginan bekerja di Jayapura dulu. Pulanglah Trimo dan keluarganya ke Klaten, untuk memenuhi pangilan CPNS. Di tengah-tengah berjalannya bekerja sebagai CPNS di KUA Delanngu, Klaten, mas Trisno menelpon, meminta, agar angkot yang disopirinya dibeli, karena mau di jual.
Dengan pertimbangan kesana-kemari, ketika konsultasi dengan orang-orang yang pernah berbisnis, akhirnya Trimo menyampaikan keinginan untuk membeli angkot ke bendahara Kankemenag Klaten. Dan akhirnya disetujui untuk di pinjami uang sebesar 60 juta, guna pembelian sebuah angkot, dengan angsuran selama 8 tahun.
Tahun pertama, setorannya, bisa berjalan dengan lancar, mulai tahun ke dua, agak tersendat-sendak, puncaknya di tahun ke tiga, sering tidak bisa setor. Bahkan kadang Trimo, ikut kirim uang untuk servis mobilnya. Mulai sejak itulah, hutang semakin bertambah, gali lubang tutup lubang tiap bulan, gaji yang waktu itu hanya 1,5 juta, menerimanya hanya 200.000 saja, karena yang 1,1 untuk angsuran hutang yang 60 juta, sedangkan 200.000 lainnya, untuk setoran wajib koperasi, tabungan hari raya, dan zakat 2,5 %.
Mau tidak mau akhirnya memperpanjang pinjaman menjadi 100 juta, dari yang tadinya 60 juta, untuk menutupi hutang hutang yang ada. Bahkan akhirnya, menambah 20 juta, menjadi 120 juta, dengan angsuran selama 10 tahun. Hutang yang menjadi 120 juta, itulah menjadikan kembali, Trimo, bercucuran air mata di kantornya, tempat ia bekerja, kadang sepulang kerja, kemmali, juga mencucurkan air mata.
Maksud pembelian mobil angkot di Jayapura, Papua, adalah, nantinya, untuk menopang kehidupan kakak kandungnya, yang sudah berumur 39 tidak berani menikah, karena merasa belum punya penghasilan yang cukup, untuk kehidupan berkeluarga. Juga, sebagian, nantinya untuk kegiatan-kegiatan keagamaan atau kemanusiaan. Tapi ternyata semuanya masih belum bisa terpenuhi, karena ketidak suksesan dalam pembelian angkot di Jayapura. Mudah-mudahan ada banyak hikmah yang bisa di dapatkan, dari kejadian tersebut, terucap oleh lisan Trimo.
4 anak 1 yang bekerja, seharusnya, pengahisilanya bisa mencukupi kebutuhan keluarga, tapi karena kegagalan dalam berbisnis, yang mengakibatkan hutang semakin bertumpuk-tumpuk. Alhamdulillah, ke 4 anak Trimo, bisa menerima keadaan tersebut. Terutama anak yang ke 4, yang sekarang duduk di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah, Trucuk Klaten kelas 1. Dia, kadang juga menangis ikut memikirkan beban orang tuanya, sehingga suatu saat, dengan tangisannya yang tersedu-sedu, menulis surat untuk abinya. Meminta maaf, belum bisa membahagiakan abi dan uminya. Saya ikut merasakan beban berat yang di pikul oleh abi dan umi, beberapa baris kata yang terbaca oleh Trimo di surat yang Ishmah Muthi’ah, anak pertamanya tulis.
Nga pa-pa mba, berucap Trimo, kepada anak pertamanya, yang berada di kamar sebelah yang sedang menagis. Abi dan umi lagi di coba, insya Allah, abi dan umi, akan bisa melewati ujian ini dengan baik. Do’akan abi dan umi terus ya? Agar tidak pernah putus asa, dalam menghadapi ujian yang abi dan umi terima. Ya bi, saya akan selalu mendo’akan abi dan umi. Tolong do’akan saya juga ya bi, agar bisa menjadi orang yang sukses agar bisa membahagiakan abi dan umi, juga adik-adik, aamiin, ucapan abinya.
‘Ishmah Muthi’ah, nama yang yang di berikan oleh orang tuanya, manakala memilih dan mengabungkan nama-nama di buku panduan mencari nama yang baik. Berharap, agar anaknya, bisa menjadi orang yang taat beragama dan bisa menjaga diri dari perbuatan-perbuatan dosa. Di era yang semakin cangih ini.
Uminya, menjadi curahat hatinya, setiap ada hal-hal yang terjadi di sekolahnya. Ishmah Muthi’ah, selalu menceritakan, tentang 4 laki-laki di sekolahnya, yang mengatakan suka kepadanya. Kadang kedua adiknya ikut tertawa, mendengarkan cerita cinta remaja yang di ceritakan oleh Ismah Muthi’ah.
Di satu kelasnya, ada yang menyukainya, namanya Fauzan, sama dengan Fauzan, kakaknya Fauzan yang kelas 2, bernama Zuhri, juga menyukainya, beserta 2 kakak kelasnya yang susah kelas 3, namanya Andi dan sekan. Mba, berhati-hati, dalam bergaul dengan lawan jenis, jangan kebablasan. Abi dan umi, semasa pra nikah tidak pernah pacaran. Dipertemukan oleh pak Kyainya, 2 pekan kemudian langsung menikah. Alhamdulillah, sampai sekarang, masih langeng, sampai punya anak 4, insya Allah, mau anak yang ke 5, insya Allah, aamiin.
Alhamdulillah, abi dan umi, berpacarannya, setelah menikah, jadi tidak ada obral janji, obral kata-kata, ataupun obral ungkapan perasaan. Semua berjalan dengan alamiyah, untuk memahami satu dengan yang lainnya. Mudah-mudahan kami langeng dunia akhirat, aamiin.
Di hari berikutnya, terjadilah berkelahian, antara dua laki-laki, satu sekolahan, tidak jelas apa yang dipermasalahkan, tiba-tiba, ke dua remaja tersebut, sudah saling pukul. Guru yang melerainya pun kena pukul, sehingga menghindar. Mingir-mingir, teriakan Ishmah Muthi’ah, denga membawa air seember. Ia berpikiran, bahwa ada setan yang merasuku keduanya, sehingga terjadi perkelahian, maka, syetan tercipta dari api, untuk memadamkannya perlu aiar. Byur, air satu ember, di siramkan ke badan mereka, eh, apa eh, seperti baru tersadar, keduanya langsung berhenti berkelahi.
Is, hebat kamu, sela beberapa teman satu kelasnya, hebat apa, la wong saya saja tadi kebingungan, apa ya? Yang ahrus saya lakukan? Agar keduanya bisa berhenti berkelahi? Maka timbulah ide tersebut. Ya, langsung saja saya ke kamar mandi cari ember, dan itulah kejadiannya, hebat kamu Is, hebat, ah… hebat apanya. Pokoknya hebat, komentar teman-temannya.
Hari berikutnya, ketika sedang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler tapak suci, ada beberapa nakal laki-laki yang bergerombol sedang menyaksikan Video dewsa, maka sang guru menyuruh Ismah menghentikannya. Dengan perasaan takut juga, Ishmah mengiyaan perintah gurunya. Baru beberapa kali latihan, sudah di suruh nahi mungkar. Hai berhenti, apa yang kamu tonton, Video porno kan? Tidak, jawab mereka, tidak apanya, dipukul lah beberapa laki-laki tersebut, agar berhenti menyaksikan tayangan-tayangan yang tidak pantas bagi mereka.
Wah salud Is, kamu pemberani, komentar gurunya, saya juga heran pak, ko saya bisa seberani ini, komentar balik Ishmah, berhadapan dengan laki-laki kakak kelasnya. Ismah Muthi’ah, adalah gadis remaja yang bersahaja, sederhana, juga kecantikannya, masih kalah dengan teman-teman sekelasnya. Tapi, dari rentetan kejadian tersebut dan kejadian-kejadian yang lainya, ada 4 laki-laki remaja se almamaternya, yang menyukainya.
Ishmah, selalu ingat akan pesan abi dan uminya, agar mengindari pegangan tangan, saling pandang memandang, dan berduaan di tempat sepi. Memang, tidak bisa terhindarkan, bercampurnya pergaulan antara murid laki-laki dan murid perempuan, karena dalam satu atap.

Rabu, 10 Februari 2016

Cerita Dewasa, Bocah Melahirkan Bocah. Tulisan ke 2

Rabu, 1 Jumadil Awal 1437 H
Datanglah seorang Mudin ke Kantor Urusan Agama, terjadilah dialog antara pak Mudin dan staf KUA. Pak Mudin, kemaren ada seorang bapak yang datang ke kantor, minta supaya didaftarkan nikah untuk anaknya, tapi kami tidak bisa mendaftarkan, karena anaknya belum cukup umur, baru berumur 15 tahun. Kami menyuruhnya, untuk melengkapi berkas, kemudian kami nanti akan mengeluarkan surat N8 dan N9, agar nantinya bisa di teruskan ke pengadilan agama. Lo, siapa itu, ko belum menemui saya ya, ah itu, si fulan, kata pak staf KUA. oh, itu, kata pak Mudin menimpali. Memang betul kata orang tua dulu, akan datang masanya, bocah melahirkan bocah. Yang perempuannya, umurnta berapa? Kata pak Mudin, ya sama, kata pak staf KUA, 15 tahun. Cah-cah, arep pakani apa cah? Masih sekolah ko sudah berbadan dua. Orang tuanya cepat-cepat ingin menikahkan anaknya, tentunya, salah satu faktornya, adalah agar tidak berkepanjangan urusannya. Padahal, urusan panjang, dimungkinkan justru setelah nantinya menikah. Memang itulah yang harus mereka pilih, kalau tidak justru akan lebih runyam. 

Dari cerita diatas yang merupakan kisah nyata, mudah-mudahan bisa menjadi peringatan, agar tidak terulang-terulang lagi, agar seseorang ketika membina rumah tangga, melakukannya dengan persiapan-persiapan, agar memperoleh rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Pesan ini tertulis juga di www.sanggarannahel.com, tulisan nomer 178. Syukron

Rabu, 03 Februari 2016