Senin, 6 Jumadil Awal 1437 H/15 Februari 2016 M
Cinta Remaja
4 + 1
Mengangis sesengukan seorang istri
bernama Nikmatuniyah Mudrikah, di serambi masjid, terbayang tadinya,
jualanya bisa laku keras, sehingga bisa mendapatkan uang yang cukup,
untuk kebutuhan sehari-hari. Ya, begitulah takdir Allah, menentukan
lain, manusia bisa berencana, tapi Allah lah, yang menentukan semua
perkara manusia. Allah lah, yang menentukan berhasil dan tidaknya
seseorang. Tentuya Allah subhanahu wa ta ‘ala, tidak akan pernah dhalim
kepada makhluknya. Semua diberi kesempatan yang sama. Manusia harus
bekerja keras, untuk bisa mendapatkan kesuksesan.
Sang suami juga ikut menitikkan air mata, betapa istri, ikut bersusah
payah menaggung kehidupan yang mereka alami. Dengan anak empat yang
masih kecil-kecil, dan gaji tiap bulan hanya 300.000, maka suami istri
tersebut berusaha untuk mencari penghasilan tambahan, agar bisa
mencukupi kebutuhan hariannya. Kala itu, Nikmatuniyah Mudrikah dan
suaminya Trimo, pergi ke Yogyakarta, tepatnya ke Desa bangun Jiwo,
Bantul. Perjalanan dari Klaten ke Bantul di tempuh sekitar 1,5 jam,
perjalanan motor.
Berdua mereka menemui mas Agus Mulyono, karyawan Majlis Dikti (perguruan
tinggi) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, untuk meminjam uang
300.000, agar bisa mencukupi untuk kebutuhan sebulan. Dalam perjalanan
pulang, mereka berdua mampir ke alun-alun selatan, dengan maksud
melihat-lihat, apakah ada kesempatan bisa ikut berjualan sesuatu di
sekitar alaun-alun selatan tersebut.
Terlihat, begitu larisnya seorang ibu yang berjualan jagung bakar, maka
terpikir dalam benaknya, bisa tidak ya? Kita ikut berjualan jagung bakar
di sebelah tempat yang kosong? Yang agak berjauhan dari jualannya ibu
tersebut berkomentar Nikmatuniyah Mudrikah kepada suaminya, insya Allah
bisa, ya, kita coba saja, siapa tahu rejeki kita komertar balik Trimo,
suaminya.
Paginya Trimo pergi ke pasar Gabus, Jatinom. Pasar yang ramai, dengan
motor bututnya, Trimo membeli setengah karung, jagung mentah, dengan
maksud malamnya akan di jual di alun-alun selatan. Setelah membayar
harga jagung sekitar 50 biji jagung Trimo pulang ke rumah kontrakannya.
Sang istri menyiapkan alat-alat yang digunakan untuk membakar jagungnya,
begitu juga, apa-apa yang akan bisa membuat jagung terasa enak.
Berangkatlah Nikmatuniyah Mudrikah, Trimo dan anaknya yang masih berumur
2 tahun Aisyah Az-Zahrah. Mereka tidak tega meninggalkan anaknya yang
masih usia balita dirumah. Tiga anaknya yang lain, mereka sebenarnya
keberatan di tinggal abi uminya, tapi, dengan penjelasan yang
disampaikan abi dan uminya, akhirnya, mereka menerima.
Sesampai di Alun-Alun selatan, mereka kaget, karena ternyata Alun-Alun
selatan begitu sepinya, sangat jauh berbeda sekali dengan malam kemaren.
Pak ada apa ya pak? Ko para penjual tidak ada semua? Nikmatuniyah
Mudrikah bertanya pada pak Becak yang sedang parkir di pingir jalan
dekat Alun-Alun Selatan. Oh ia mba, besok akan ada peringatan hari
kemerdekaan Republik Indonesia, jadi malam ini di sterilkan, tidak boleh
berjualan, untuk sementara di Alun-Alun Selatan, oh begitu ya pak,
nggeh nuwun.
Pulanglah sang suami istri tersebut ke Klaten, dimana sebelum sampai
Kalasan, mampir dulu di masjid yang dekat dengan jalan besar. Maka
disitulah Nikmatuniyah Munanggis tersedu-sedu, yang di tenangkan olen
Trimo suaminya, sabar mi, belum rejeki kita. Mari kita pulang, i bi,
maaf umi menaggis, ya nga pa-pa, abi juga ikut terharu, sampai abi juga
ikut menanggis. Yang sabar ya bi, sang istri balik menguatkan suaminya,
ya isya Allah, abi sabar.
Dalam perjalaan pulang kerumah kontrakan, dalam diamnya, Trimo tak bisa
menahan perasaannya, ia akhirnya menanggis sesengukan juga, teringat
akan kejadian-kejadian yang membuatnya menaggis, kejadian ketika di
keluarkan dari tempat pekerjaanya, di sebuah pondok pesantren, yang kala
itu menjadi pengasuh asrama putri. Malam itu juga dengan mengunakan
motor, Trimo dan istrinya, serta ketiga anaknya pulang ke rumah orang
tuanya di Tegal.
Bercucuran air mata di kamar sebelah asrama putri, sebuah kamar yang
dikhususkan untuk pembimbing asrama. Menaggisnya Trimo, karena tidak
siapanya, ketika akan di keluarkan dari pekerjaannya semula, setelah 4
tahun bekerja, sebagai pengasuh asrama putri, di lembaga tersebut,
dengan tangunggan seorang istri dan tiga anak yang masih kecil-kecil.
Begitu juga kembali bercucuran air mata ketika berpamitan dengan kepala
sekolah swasta di lain yayasan, dimana Trimo disitu mengajar bahasa
Arab, 6 jam di tiga kelas, kelas 1 sampai kelas 3 SMP Al-Islam. Tidak
mungkin bisa mengandalkan gaji ngajar di SMP Al-Islam tersebut, karena
tiap bulan hanya dapat 40.000.00, jadi, pamit juga untuk pulang dulu ke
rumah orang tuannya.
Bersyukur sekali, karena, walaupun di keluarkan dari pekerjaanya, masih
dapat pesangonm 1,5 juta. Insya Allah bisa cukup untuk kebutuhan selama 2
bulan. Hidup di Tegal, sebagai kota kelahiran Trimo, membuatnya
canggung, karena, sejak tamat Sekolah Dasar, Trimo sudah tidak lagi di
Tegal, tapi di bawa oleh almarhum pak Bu Harjo ke Yogyakarta, yang
teryata di masukkan ke sebuah Madrasah, yaitu Madrasah Mu’allimin
Muhammadiyah Yogyakarta. Selama 6 tahun mengenyam pindidikan disana.
Setelah lulus dari Madrasah, ada pangilan menjadi pengasuh pondok
pesantren di Klaten. Maka Trimo, pergi ke Klaten, untuk memenuhi
pangilan pekerjaan tersebut. Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam. Dimana
setelah 5 tahun menjadi pengasuh di pondok pesantren tersebut, Trimo
diminta untuk menjadi pengasuh di sebuah lembaga swasta, di sebuah
pondok pesantren juga. Waktu itu di minta oleh almarhum direktur dari
pondok pesantren tersebut. Di lembaga tersebut, Trimo bekerja selama 4
tahun. Sang di rektur meniggal dunia kecelakaan, dalam perjalanan malam,
mengunakan sepeda motor, Semarang-Klaten. Sepertinya beliau,
rahimahullah, bapak Farid Ma’ruf, Lc, dalam kondisi kecapaian, dari pagi
sampai malam beraktifitas, kemudian pagi berikutnya harus ke semarang,
untuk melengkapi berkas-berkas sebagai petugas Haji. Dalam perjalanan ke
Klaten dari Semarang, motor oleng dan menabrak pohon besar, beliau,
rahimahullah, sempat sadar dan dibawa kerumah sakit, akhinya meninggal
dunia.
Kembali air mata bercucuran, ketika ikut melayat, dua tahun bergaul
dengan beliau, menjadikan kesedihan, ketika di tnggal oleh beliau.
Seorang direktur sebuah madrasah, yang mengayomi bawahannya, dan seorang
aktifis dakwah yang selalu bersemangat. Mudah-mudahan Allah subhanahu
wa ta’la meridhainya, aamiin
Tidak lama hidup di tegal, maka, Trimo dan keluarganya, kembali ke
Klaten, tempat kelahiran istri dan anak-anaknya. Tidak sedikit kenalan
di Klaten yang semuannya adalah orang-orang yang baik. Dengan hal
tersebut, isya Allah, akan ada pekerjaan lagi, yang dapat untuk
mencukupi kehidupan keluarga. Allah Maha Rahman dan Rahim, untuk
sementara, Trimo dan keluarganya, menempati satu ruangan kecil, di
sebuah lapangan, yang tidak ada kamar mandinya, jadi disitu hanya untuk
bermalam, kemudian kalau keperluan yang membutuhkan air, jalan dulu
sekitar 200 meter. Ke sekolah yang ada kamar mandinya, pagi-pagi sebelum
ana—anak sekolah datang Trimo dan keluarganya, harus sudah selesai,
menggunakan kamar mandi sekolah.
Tidak lama, Trimo dan keluargannya, berada di satu kamar kecil di pingir
lapangan tersebut, karena, ada sahabat yang mendengar tentang
keberadaan Trimo dan keluarganya yang sedang kesulitan. Dia adalah mas
Hanif Hardoyo, pemilik sebuah penerbitan bernama Inas Media. Sebuah
penerbitan, dengan misi, “ Inspirasi Keshalihan Anda.”
Trimo dan keluarganya, ditempatkan di sebuah rumah yang bagus, juga
diberi pekerjaan, sebagai editor pendamping, di samping editor yang
sudah ada dan utama. 6 Bulan Trimo dan keluarganya menempati rumah
tersebut, dimana setelah itu, Trimo dan keluarganya, di boyong ke
Jayapura, papua, untuk menjadi pengasuh panti Asuhan disana.
2 tahun menjadi pengasuh panti asuhan di Distrik Abepura, Jayapura.
Akhirnya pulang lagi ke Klaten, karena ada pangilan CPNS sebagai Honorer
Penyuluh Agama Islam. Setahun berjalan di Jayapura, kakak kandungnya,
mas Trisno, minta supaya di carikan pekerjaan di Jayapura.
Alhamdulillah, dapat pekerjaan, sebagai sopir angkot.
Ketika Trimo dan keluarganya, mau pulang ke Jawa, mas Trisno, ditawari
untuk pulang bersama, tapi beliaunya tidak mau, karena masih
berkeinginan bekerja di Jayapura dulu. Pulanglah Trimo dan keluarganya
ke Klaten, untuk memenuhi pangilan CPNS. Di tengah-tengah berjalannya
bekerja sebagai CPNS di KUA Delanngu, Klaten, mas Trisno menelpon,
meminta, agar angkot yang disopirinya dibeli, karena mau di jual.
Dengan pertimbangan kesana-kemari, ketika konsultasi dengan orang-orang
yang pernah berbisnis, akhirnya Trimo menyampaikan keinginan untuk
membeli angkot ke bendahara Kankemenag Klaten. Dan akhirnya disetujui
untuk di pinjami uang sebesar 60 juta, guna pembelian sebuah angkot,
dengan angsuran selama 8 tahun.
Tahun pertama, setorannya, bisa berjalan dengan lancar, mulai tahun ke
dua, agak tersendat-sendak, puncaknya di tahun ke tiga, sering tidak
bisa setor. Bahkan kadang Trimo, ikut kirim uang untuk servis mobilnya.
Mulai sejak itulah, hutang semakin bertambah, gali lubang tutup lubang
tiap bulan, gaji yang waktu itu hanya 1,5 juta, menerimanya hanya
200.000 saja, karena yang 1,1 untuk angsuran hutang yang 60 juta,
sedangkan 200.000 lainnya, untuk setoran wajib koperasi, tabungan hari
raya, dan zakat 2,5 %.
Mau tidak mau akhirnya memperpanjang pinjaman menjadi 100 juta, dari
yang tadinya 60 juta, untuk menutupi hutang hutang yang ada. Bahkan
akhirnya, menambah 20 juta, menjadi 120 juta, dengan angsuran selama 10
tahun. Hutang yang menjadi 120 juta, itulah menjadikan kembali, Trimo,
bercucuran air mata di kantornya, tempat ia bekerja, kadang sepulang
kerja, kemmali, juga mencucurkan air mata.
Maksud pembelian mobil angkot di Jayapura, Papua, adalah, nantinya,
untuk menopang kehidupan kakak kandungnya, yang sudah berumur 39 tidak
berani menikah, karena merasa belum punya penghasilan yang cukup, untuk
kehidupan berkeluarga. Juga, sebagian, nantinya untuk kegiatan-kegiatan
keagamaan atau kemanusiaan. Tapi ternyata semuanya masih belum bisa
terpenuhi, karena ketidak suksesan dalam pembelian angkot di Jayapura.
Mudah-mudahan ada banyak hikmah yang bisa di dapatkan, dari kejadian
tersebut, terucap oleh lisan Trimo.
4 anak 1 yang bekerja, seharusnya, pengahisilanya bisa mencukupi
kebutuhan keluarga, tapi karena kegagalan dalam berbisnis, yang
mengakibatkan hutang semakin bertumpuk-tumpuk. Alhamdulillah, ke 4 anak
Trimo, bisa menerima keadaan tersebut. Terutama anak yang ke 4, yang
sekarang duduk di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah, Trucuk Klaten kelas
1. Dia, kadang juga menangis ikut memikirkan beban orang tuanya,
sehingga suatu saat, dengan tangisannya yang tersedu-sedu, menulis surat
untuk abinya. Meminta maaf, belum bisa membahagiakan abi dan uminya.
Saya ikut merasakan beban berat yang di pikul oleh abi dan umi, beberapa
baris kata yang terbaca oleh Trimo di surat yang Ishmah Muthi’ah, anak
pertamanya tulis.
Nga pa-pa mba, berucap Trimo, kepada anak pertamanya, yang berada di
kamar sebelah yang sedang menagis. Abi dan umi lagi di coba, insya
Allah, abi dan umi, akan bisa melewati ujian ini dengan baik. Do’akan
abi dan umi terus ya? Agar tidak pernah putus asa, dalam menghadapi
ujian yang abi dan umi terima. Ya bi, saya akan selalu mendo’akan abi
dan umi. Tolong do’akan saya juga ya bi, agar bisa menjadi orang yang
sukses agar bisa membahagiakan abi dan umi, juga adik-adik, aamiin,
ucapan abinya.
‘Ishmah Muthi’ah, nama yang yang di berikan oleh orang tuanya, manakala
memilih dan mengabungkan nama-nama di buku panduan mencari nama yang
baik. Berharap, agar anaknya, bisa menjadi orang yang taat beragama dan
bisa menjaga diri dari perbuatan-perbuatan dosa. Di era yang semakin
cangih ini.
Uminya, menjadi curahat hatinya, setiap ada hal-hal yang terjadi di
sekolahnya. Ishmah Muthi’ah, selalu menceritakan, tentang 4 laki-laki di
sekolahnya, yang mengatakan suka kepadanya. Kadang kedua adiknya ikut
tertawa, mendengarkan cerita cinta remaja yang di ceritakan oleh Ismah
Muthi’ah.
Di satu kelasnya, ada yang menyukainya, namanya Fauzan, sama dengan
Fauzan, kakaknya Fauzan yang kelas 2, bernama Zuhri, juga menyukainya,
beserta 2 kakak kelasnya yang susah kelas 3, namanya Andi dan sekan.
Mba, berhati-hati, dalam bergaul dengan lawan jenis, jangan kebablasan.
Abi dan umi, semasa pra nikah tidak pernah pacaran. Dipertemukan oleh
pak Kyainya, 2 pekan kemudian langsung menikah. Alhamdulillah, sampai
sekarang, masih langeng, sampai punya anak 4, insya Allah, mau anak yang
ke 5, insya Allah, aamiin.
Alhamdulillah, abi dan umi, berpacarannya, setelah menikah, jadi tidak
ada obral janji, obral kata-kata, ataupun obral ungkapan perasaan. Semua
berjalan dengan alamiyah, untuk memahami satu dengan yang lainnya.
Mudah-mudahan kami langeng dunia akhirat, aamiin.
Di hari berikutnya, terjadilah berkelahian, antara dua laki-laki, satu
sekolahan, tidak jelas apa yang dipermasalahkan, tiba-tiba, ke dua
remaja tersebut, sudah saling pukul. Guru yang melerainya pun kena
pukul, sehingga menghindar. Mingir-mingir, teriakan Ishmah Muthi’ah,
denga membawa air seember. Ia berpikiran, bahwa ada setan yang merasuku
keduanya, sehingga terjadi perkelahian, maka, syetan tercipta dari api,
untuk memadamkannya perlu aiar. Byur, air satu ember, di siramkan ke
badan mereka, eh, apa eh, seperti baru tersadar, keduanya langsung
berhenti berkelahi.
Is, hebat kamu, sela beberapa teman satu kelasnya, hebat apa, la wong
saya saja tadi kebingungan, apa ya? Yang ahrus saya lakukan? Agar
keduanya bisa berhenti berkelahi? Maka timbulah ide tersebut. Ya,
langsung saja saya ke kamar mandi cari ember, dan itulah kejadiannya,
hebat kamu Is, hebat, ah… hebat apanya. Pokoknya hebat, komentar
teman-temannya.
Hari berikutnya, ketika sedang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler tapak
suci, ada beberapa nakal laki-laki yang bergerombol sedang menyaksikan
Video dewsa, maka sang guru menyuruh Ismah menghentikannya. Dengan
perasaan takut juga, Ishmah mengiyaan perintah gurunya. Baru beberapa
kali latihan, sudah di suruh nahi mungkar. Hai berhenti, apa yang kamu
tonton, Video porno kan? Tidak, jawab mereka, tidak apanya, dipukul lah
beberapa laki-laki tersebut, agar berhenti menyaksikan tayangan-tayangan
yang tidak pantas bagi mereka.
Wah salud Is, kamu pemberani, komentar gurunya, saya juga heran pak, ko
saya bisa seberani ini, komentar balik Ishmah, berhadapan dengan
laki-laki kakak kelasnya. Ismah Muthi’ah, adalah gadis remaja yang
bersahaja, sederhana, juga kecantikannya, masih kalah dengan teman-teman
sekelasnya. Tapi, dari rentetan kejadian tersebut dan kejadian-kejadian
yang lainya, ada 4 laki-laki remaja se almamaternya, yang menyukainya.
Ishmah, selalu ingat akan pesan abi dan uminya, agar mengindari pegangan
tangan, saling pandang memandang, dan berduaan di tempat sepi. Memang,
tidak bisa terhindarkan, bercampurnya pergaulan antara murid laki-laki
dan murid perempuan, karena dalam satu atap.