PAGELARAN TOKOH KARDUS SEBAGAI MODEL DAKWAH ISLAM
Disusun oleh
Trimo, Muh. Muhsin, Muchlas Hidayat
Al Ahwalusy Syahsyiyyah
Fakultas Agama Islam
Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta
Tahun 2017
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul Karya Tulis : Pagelaran Tokoh Kardus Sebagai Model Dakwah Islam
2. Sub Tema : Keterpaduan Pagelaran Bidaya Lokal
dengan Dakwah Islam yang Benar dan
Shohih
3. Ketua Tim
a. Nama Lengkap : Trimo
b. NIM : 14.1054
c. Jurusan : Al Ahwal Al Syahsyiyah
d.. Universitas : Nadlatul Ulama
e.. Email : abumuthi01@gmailcom
4. Alamat Rumah : Dukuh Puluhan Bero Rt. 2 Rw. 6 Desa
Bero Kec. Trucuk Kab. Klaten JawaTengah
5. No. Hp : 081339689736
6. Dosen Pembimbing
a. Nama Lengkap dan Gelar : Suparnyo, SH, MH
b. NIP :
c. Alamat REumah dan No Hp :
Klaten, tanggal, 28 Februari 2018
Dosen Pembimbing Ketua Tim
Suparnyo, SH, MH Trimo
NIP NIM : 114.1054
Menyetujui
Dekan Fakultas Agama Islam,
Dr. H. Amir Mahmud, M.Ag
i
LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama Ketua : Trimo
Tempat, Tanggal Lahir : Tegal, 16 Januari 1974
Fakultas : Agama Islam
Perguruan tinggi : Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta
Dengan ini menyatakan bahwa karya tulis dengan judul, “Pagelaran Tokoh Kardus SEbagai Model Dakwah Islam” adalah benar-benar hasil karya sendiri dan bukan merupakan plagiat dari karya tulis orang lain serta belum pernah menjuarai di kompetisi serupa. Apabila dikemudian hari peryataan ini tidak benar maka saya bersedia menerina sanksi yang ditetapkan oleh panitia LKTN HMJ MATRIKS UMM berupa diskualifikasi dari kompetisi. Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya, untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Klaten, 28 Februari 2018
Yang menyatakan,
Trimo
NIM : 14.1054
ii
Kata Pengantar
لْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.
Segala puji bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang telah memerintahkan kepada kita sekalian untuk selalu berpegang teguh pada tali agama Alloh. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk di ibadahi kecuali Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. SEmoga sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada tauladan umat Islam yakni Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu juga semoga shalawan dan salam tercurahkan kepada keluarganya, sahabatnya dan para pengikut petunjuknya. Aamiin.
Selanjutnya, kami atas nama tim lomba utusan dari Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta, ingin berusaha untuk menyajikan apa yang kami teliti kepada panitia lomba yang nantinya semoga bisa menjadi satu masukkan bagi umat Islam dan masyarakat Indonesia. Ini adalah pertamakali kami mengikuti lomba karya tulis ilmiyah.
Kami berharap keikutsertaan kami pada ajang lomba tersebut bisa memberi manfaat bagi kami sebagai pengalaman yang berharga untuk kami jadikan peningkatan dalam tulis-menulis. Begitu juga mudah-mudahan kami tidak bertepuk sebelah tangan dalam usaha kami menulis sebuah hasil penelitian dan pengamatan serta wawancara yang kami lakukan agar dapat menemukan kesimpulan yang baik.
Atas nama kami bertiga, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada panitia lomba yang telah memberikan kesempatan pada kami untuk bisa berkesempatan mengasah sedikit kemampuan kami untuk berlomba dengan para mahasiswa yang cemerlang-cemerlang di usianya yang masih muda
iii
Masih banyak kekurangan yang kami miliki dan keterbatasan-keterbatasan yang kami punya untuk mengembangkan karya yang kami tulis, sehingga masih banyak kekeliruan dan kesalahan. Kami akan selalu berusaha untuk memperbaiki karya kami dikemudian hari agar lebih baik. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kritik dan saran sangat kami harapkan dari siapa saja yang membaca karya kami.
Surakarta, 28 Februari 2018
Penyusun,
Trimo
iv
Daftar Isi
Lembar Judul
Lembar Pengesahan
Lembar Penyataan
Daftar isi
Kata Pengantar
Pendahuluan
⦁ Latar Belakang
⦁ Rumusan Masalah
⦁ Tjuan
⦁ Manfaat
⦁ Metode
Pembahasan
a.
b.
c.
d.
Kesinpulan Saran dan Rekomendasi
Daftar Putaka
Lampiran
v
PENDAHULUAN
⦁ Latar Belakang
Perpaduan budaya lokal dengan dakwah Islam yang benar dan shohih, perlu di galakkan di Indonesia, karena masyarakat Indonesia masih banyak yang hidup di pedesaan. Disamping itu perpaduan budaya lokal dengan dakwah Islam yang shohih, bila bisa dikemas dengan menarik, akan menjadi daya tarik tersendiri di perkotaan dalam mendakwahkan Islam, juga tentunya dipedesaan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman dalam Al Qura’n surat Al Bayyinah ayat 5. وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
“Padahal mereka tidak disuruh) di dalam kitab-kitab mereka yaitu Taurat dan Injil (kecuali menyembah Allah) kecuali supaya menyembah Allah, pada asalnya adalah An Ya'budullaaha, lalu huruf An dibuang dan ditambahkan huruf Lam sehingga jadilah Liya'budullaaha (dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam beragama) artinya membersihkannya dari kemusyrikan (dengan lurus) maksudnya berpegang teguh pada agama Nabi Ibrahim dan agama Nabi Muhammad bila telah datang nanti. Maka mengapa sewaktu ia datang mereka menjadi jadi ingkar kepadanya (dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama) atau tuntunan (yang mustaqim) yang lurus.”
“Mereka tidak dibebani tugas kecuali agar ibadah mereka hanya ditujukan kepada Allah dengan ikhlas, agar mereka menjauhi kebatilan, beristikamah dalam kebenaran dan agar mereka selalu melaksanakan salat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”
1
Seseorang yang mengaku beragama Islam, ia harus bersungguh-sungguh untuk memasuki agama Islam secara kaffah atau penuh. Ia harus menjalankan ibadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan baik dan benar serta shohih. Ia juga harus mengikhlaskan diri semata-mata ibadanya hanya karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala, jauh dari kesirikan. Baik syirik besar apalagi syirik besar.
Para wali zaman dahulu telah berusaha menanamkan nilai-nilai ke Islaman dalam berdakwah di masyarakat yang waktu itu mayoritasnya beragama Budha dan Hindu. Terutama Sunan Kalijaga. Salah satu foktor yang mendorong tentunya karena ada jiwa seni yang dicoba untuk di kembangkan walaupun mungkin awalnya tidak muncul. Hal tersebut bisa karena hasil dari pemikiran yang mendalam bagaimana caranya berdakwah agar bisa diterima di masyarakat yang berkembang waktu itu.
Seorang panglima besar yang punya jiwa seni, suatu saat mengatakan pada istrinya, yang sering menumpahkan kegelisahannya ke secarik kertas, untuk menulis puisi. “Ngene apik ora bu.” “Diwaktu-waktu sengang, bapak memang sering memanfaatkan waktunya dengan menulis puisi,” tutur bu Dirman yang ditinggalkan suaminya sewaktu ia berusia 30 tahun. Salah satu puisi yang di tulis oleh panglima besar Jendral Sudirman sebagai berikut :
Robek-robeklah badanku
Potong-potonglah jasadku
Teta[u jiwaku yang dilindungi benting Merah Putih
Akan tetap hidup
Menuntut bela siapa pun lawan yang ‘kan dihadapi
2
Seni bisa menyegarkan perasaan. Berkesenian menjadi wahana ekspresi yang bisa punya manfaat yang besar apabila diniatkan untuk beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu kesenian yang mengakar pada masyarakat kita sampai sekarang adalah pagelaran wayang, sampai pada masa pak Karno pun beliaunya suka nonton wayang.
Bung Karno yang beragama Islam, salah seorang dari banyak tokoh yang menyukai wayang, yang merupakan seni budata lokal, terutama Jawa. Setiap kali suatu agama datang pada suatu daerah, maka mau tidak mau, agar ajaran agama tersebut dapat diterima oleh masyarakatnya secara baik, penyampaian materi dan ajaran agama tersebut haruslah bersifat “membumi”. Maksudnya adalah, ajaran agama tersebut harus menyesuaikan diri dengan beberapa aspek lokal, sekiranya tidak bertentangan secara dimetris dengan ajaran substantif agama tersebut. Demikianlah pula dengan kehadiran Islam di Jawa, sejak awalnya, Islam begitu mudah diterima, karena para pendakwanya menyampaikan Islam secara harmonis, yakni merenguh tradisi yang baik sebagai bagian dari ajaran agama Islam sehingga masyarakat merasa “ngeh” atau “enjoy” menerima Islam sebagai agamanya.
3
⦁ Rumusan Masalah
Apakah bisa? Indonesia yang mempunyai budaya lokal berupa pagelaran wayang kulit yang diiringi dengan gamelan dan adanya pengajian yang digagas oleh Habib Syech, perlu yang diiringi oleh hadroh perlu dimaksimalkan peranya masing masing. Antara kru penabuh dan nara sumber kemanfaatannya agar bisa terus maju dan berkembang dengan mengadakan pagelaran yang berisi cerita yang bermakna dengan di iringi oleh gamelan dan hadroh.
⦁ Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelilitian yang kami lakukan adalah untuk pada masanya mengadakan pagelaran dengan memadukan antara pagelaran eayang kulit dengan pengajian yang di gagas oleh Syech Habib, untuk menghasilkan metode dakwah yang bisa diterima dimasyarakat dengan memadukan budaya lokal dan dakwah Islami yang benar dan shohih.
⦁ Manfaat
Kemanfaatan yang barangkali bisa didapatkan oleh masyarakat ialah karena menndengarkan cerita sang tokoh yang legendaris yang bisa dijadikan teladan dalam membela tanah air dimana ia tetap istiqomah pada agamanya.
⦁ Metode
Metode yang kami lakukan dalam penelitian ini adalah metode kwalitatif. Yakni meneliti dengan metode kajian pustaka, wawancara dan pengamatan
4
PEMBAHASAN
⦁ Memadukan Budaya Lokal dengan Dakwah Islami yang Shohih
Memadukan budaya lokal dengan dakwah Islam yang benar atau shohih, perlu di galakkan di Indonesia, karena masyarakat Indonesia masih banyak yang hidup di pedesaan. Disamping jika pemaduan budaya lokal dengan dakwah Islam yang shohih bisa dikemas dengan menarik, bisa jadi juga akan menjadi daya tarik tersendiri di perkotaan dalam mendakwahkan Islam. Memadukan pagelaran wayang kulit atau wayang golek, yang juga di iringi dengan bukan hanya gamelan saja, akan tetapi bisa di hadirkan juga musik hadroh akan bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Dalam pementasan wayang yang biasanya mengunakan bahasa jawa, bisa dengan mengunakan bahasa Indonesia dengan tema tampillan tokoh-tokoh bangsa atau pahlawan bangsa, seperti presiden ke dua kita, yakni bapak H. Soeharto atau Jendral Sudirman. Kematangan keduannya dalam menghadapi situasi bangsa yang kacau atau di jajah pada saat itu bisa disampaikan ke public agar bisa menjadikan hikmah, ibroh atau pelajaran dan teladan.
Wayang kulit atau wayang golek bisa dibuat dengan bentuk dua tokoh tersebut dan orang-orang yang berada di sekeliling mereka ketika kedua tokoh tersebut masih hidup. Dalam pementasan tokoh tersebut misalkan bisa mengambil tema, “Keteguhan pak Harto”, dimana sang Dalang bermaksud ingin menyampaikan pesan kepada audien, lewat pementasan tersebut tentang kematangan sikap pak Harto manakala bangsa hampir coas. Banyak yang membisikkan agar beliaunya, rohimahulloh, melakukan kudeta kepada presiden RI pertama, yakni bapak Ir. Soekarno, akan tetapi pak Harto tidak melakukannya. Sebagaimana beliau katakan sendiri dalam buku yang di tulis oleh G. Dwipayana dan Ramadhan K.H, dalam bukunya, “Soeharto”, Pikiran,
5
Ucapan, dan tindakan saya. Otobiografi, dengan penerbit : PT. Citra Lamtoro Gung Persada tahun 1989 cetakan ke dua, halaman 176. “Di perjalanan ini ada yang berbisik-bisik pada saya, untuk merebut kekuasaan dengan kekerasan. Tetapi tak pernah terlintas satu kali pun di benak saya untuk melakukannya. Maka saya menghindarkan diri dari godaan untuk berbuat seperti apa yang dibisikkan ke telingga saya itu. Saya tetap berpikir, memberi nafas pada kehidupan demokrasi sangat perlu, sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. Saya tetap teguh dalam pendirian, tidak akan mewariskan lembaran sejarah hitam dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, menggunakan kekuatan senjata merebut kekuasaan (atau coup) sebab sekali terjadi akan bisa terus terjadi seperti di Amerika latin atau Afrika”.
Dalang dalam pagelaran wayang tersebut yang menceritakan akan kacaunya apabila terjadi kudeta oleh militer, bisa di tengah-tengah pagelaran tersebut menyampaikan ayat-ayat atau hadits-hadits yang berkaitan dengan kedholiman atau kerusaakan yang akan di dapat jika memberontak. Di tengah-tengah pementasan bisa di selinggi musik gamelan dan hadroh yang melagukan atau menembangkan lagu-lagu atau tembang-tembang yang sarat dengan makna nilai-nilai perjuangan Islam yang sesuai dengan tema pagelaran. Tentunya, jika memang mengacunya pada perpaduan antara budaya lokal dan dakwah Islami yang shohih, para pemainnya juga dalangnya harus menyesuaikan, dengan adap-adap Islami. Contohnya dalam penyampaian cerita untuk dalang tidak boleh mengunakan banyolan-banyolan yang saru, semua warongenya atau penabuh gamelannya mengunakan busana yang menutup aurot, begitu juga dengan pesindenya. Kemudian ketika malam hari, tidak sepenuhnya digunakan untuk pagelaran terus sampai pagi.
6
Ada jeda waktu untuk mengajak para kru pagelaran termasuk Dalangnya dan kru hadroh dan para penonton untuk sholat malam, tahsin al-Qur;an dan mungkin hafalan al-Qur’an satu juz bagi yang mampu. Jadi ada keterpaduan antara kegiatan pegelaran wayang yang merupakan budaya lokal dengan muatan-muatan Islami sebagai sarana dakwah.
Berikut saya tuliskan sedikit bahan dalam pementasan, berkaitan dengan tema tentang, “Keteguhan pak Harto”. Dalam buku yang di tulis oleh dua orang, yakni : G. Dwipayana dan Ramadhan K.H. tertuanglah pikiran-pikiran apa yang disampaikan oleh pak Harto yakni : Saya berpikir, menerawang, menyusuri kejadian-kejadian yang pernah kita alami sejak Republik kita berdiri, sampai terjadinya G.30S/PKI dan tantangan yang kita hadapi kemudiannya.
Mengapa dapat timbul pemberontakan G.30S/PKI, mengapa pula selala 20 tahun kemerdekaan banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan lain sebelumnya, mengapa selama itu rintetan krisisi-krisis politik, mengapa sesudah 20 tahu merdeka, mengapa sesudah 20 tahun merdeka tingkat kesejahteraan rakyat tidak menunjukkan perbaikan yang berarti? Ini masalah-masalah pokok yang saya renungkan sambil duduk bersandar di kursi.
Saya pikir, persoalan dan usaha memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan tadi pantas menjadi masalah pokok seluruh bangsa, masalah nasional yang utama dan mendesak. Semua pemimpin bangsa kita patut memikirkannya. Negarawan-negarawan kita pastas memikirkannya. Mahasiswa, pemuda, dan kaum wanita pastas merenungkannya. Cendikiawan kita, anggota-anggota ABRI patut memikirkannya.
Soeharto
Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya
Otobiografi
G. Dwipayana dan Ramadhan K.H
PT Citra Lomtoro GungPersada tahun 1989 cetakan ke 2 halaman 232
7
Sebenarnya pegangan saya adalah ‘cipta, rasa karya”. Itulah falsafah hidup saya. Saya mempergunakan kelengkapan hidup kita yang diberikan Tuhan kepada kita, yakni panca indera kita, untuk mempertajam cipta, rasa, karsa itu.
Memang tanggapan kita masing-masing terhadap sesuatu hal berbeda-beda. Pendengaran kita bisa berbeda, penglihatan kita pun bisa berbeda pula. Sebab itu, dilihat secara taktik dan strategi perang, ketrrangan militer saja masih merupakan suatu yang mentah, keterangan tadi perlu diolah lagi menjadi keterangan intelejen. Keterangan intelejen inilah yang merupakan sesuatu yang sudah matang, yang sudah dipercaya, sudah bisa dipakai sebagai ukuran.
Begitu pun mengenai apa-apa yang kita dengar, apa-apa yang kita lihat, apa-apa yang kita raba. Semua itu mesti kita kumpulkan sehingga merupakan bahan untuk diolah, dimasukkan dalam “computer” kita, dalam ‘cipta’ kita. Lalu endapan itu semua, rasakan. Kalau kita sudah merasakannya cocok, kalau sudah ‘rasa’ mengatakan cocok, maka dengan sendirinya akan timbul ‘krentek’, niat. Maka setelah itu saya mengemukakan pilihan, dan saya mengambil keputusan.
Teorinya begitu, semua orang bisa. Tetapi sesungguhnya, latihannya adalah yang utama. (134-134
8
Kesimpulan Saran dan Rekomendasi
Daftar Pustaka
Lampiran-Lampiran
9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar