Abstrak
Pagelaran wayang di Indonesia sejak zaman dahulu sampai sekarang masih eksis. Sunan Kalijaga pernah menggunakannya sebagai sarana dakwah. Disisi lain ada pengajian yang digagas oleh Habib Syech, yang banyak melantunkan sholawat. Berbeda dengan pagelaran wayang dimana yang lebih dominan berperan adalah dalangnya bukan krunya, adapun pengajian Habib Syech yang lebih dominan berperan krunya dan bisa didapatkan banyak manfaat dengan banyaknya lantunan sholawat.
Dari dua hal diatas, yakni pagelaran wayang dan pengajian Habib Syech, Maka timbul sesuatu gagasan bagaimana caranya menggabungkan agar sarat muatan manfaat dan yang banyak berperan adalah narasumbernya atau seimbang.
Menggabungkan keduannya dalam dakwah Islam yang banyak mengandung manfaat dan hikmah perlu adanya inovasi baru. Untuk itu kami membuat suatu hal yang menjadi suatu ukuran pahala dengan menghitungnya.
Kesimpulannya, bagaimana bentuk suatu kebudayaan dalam hai ini wayang yang bercerita tentang tokoh imajinatif di kemas menjadi cerita yang jelas asal-usul tokohnya di dunia nyata, dengan inovasi pagelaran tokoh kardus. Kami akan membuat penelitian dengan metode kwalitatif, yakni mengabungkan antara tinjauan lapangan dan tinjauan pustaka.
Kata Kunci : Pahala, Budaya Dan Dakwah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar